Pasar Tiban Depan Terminal Mangkang, Pilihan Hemat Berburu Baju Lebaran

METROSEMARANG.COM – Menjelang akhir Ramadan, masyarakat berbondong-bondong berburu baju Lebaran. Tidak hanya di mal atau pasar tradisional yang jadi incaran masyarakat untuk mencari baju lebaran. Pasar tiban yang berlokasi di seberang Terminal Mangkang atau di depan Kebun Binatang Mangkang ini pun tak luput dari serbuan warga.

Pasar tiban di depan Terminal Mangkang menjadi jujugan warga yang ingin berburu busana Lebaran. Foto: metrosemarang.com/yulikha elvitri
Pasar tiban di depan Terminal Mangkang menjadi jujugan warga yang ingin berburu busana Lebaran. Foto: metrosemarang.com/yulikha elvitri

Pasar yang beroperasi mulai pukul 17.00-21.00 ini memang hanya buka tiap Jumat malam saja dan semakin larut, pembelinya justru kian ramai saja. Indri, salah seorang pedagang asal Karonsih, Ngaliyan ini mengaku bahwa omzetnya meningkat. “Ya alhamdulillah, ramai dapatlah untung dikit-dikit,” ungkap Indri kepada metrosemarang.com, Jumat (1/7) malam.

Indri yang setiap hari Rabu juga berjualan di Pasar Kliwonan Ngaliyan ini mengaku tidak menaikkan harga dagangannya. Ia bahkan menjual baju model abaya dengan harga Rp 125 ribu saja. “Kalau di mal dengan bahan yang sama pasti sekitar Rp 200-an,” imbuh Indri.

Pantauan metrosemarang.com, harga baju yang dijual di pasar tiban ini relatif terjangkau. Celana jins misalnya, dibanderol mulai dari Rp 75 ribu saja. Harga baju yang relatif mahal adalah baju muslim untuk usia dewasa.

Seperti baju muslim Korea. Baju muslim ini seperti baju muslim kebanyakan, hanya saja ada variasi bentuk leher yang tertutup hingga motif payet yang membuatnya terlihat mewah. Baju muslim Korea dibanderol seharga Rp 225 ribu.

Salah satu kelebihan dari pasar tradional dan pasar tiban adalah negosiasi harga. Proses tawar menawar masih menjadi salah satu alasan warga memilih berbelanja di pasar jenis ini. Hal ini diakui Prasetya, salah seorang pembeli asal Tambak Aji, Ngaliyan.

Meskipun ia mengaku tidak bisa menawar, tetapi menurutnya interaksi dengan pedagang adalah sesuatu yang menarik. “Kalau di mal kan tidak mungkin nawar, meskipun di sini juga paling potongannya dikit tapi bagi ibu-ibu potongan seribu sampai lima ribu itu berarti,” ungkap Prasetya.

Ia menambahkan, berbelanja di pasar seperti ini mungkin terkesan murah, karena baju-baju yang dijuak bukanlah baju bermerk asli. Tapi baginya bukan masalah, karena kenyamanan lebih penting dari pada merk.

Jumat malam tadi adalah hari terakhir pasar tiban ini beroperasi. Jika Anda penasaran ingin mencoba berbelanja di tempat ini, maka harus menunggu dua minggu lagi, mengingat pekan depan sudah masuk Lebaran. (vit)

You might also like

Comments are closed.