Pegiat Sejarah Daftarkan Gedung Eks Kantor VSTP Jadi Cagar Budaya

Gedung VSTP, dulu dan sekarang. Foto: metrosemarang.com/dok KSP Semarang
Gedung VSTP, dulu dan sekarang. Foto: metrosemarang.com/dok KSP Semarang

SEMARANG – Komunitas Pegiat Sejarah (KPS) Semarang resmi mendaftarkan kajian cagar budaya terhadap temuan bangunan gedung eks kantor Vereeniging van Spoor en Tramweg Personeel (VSTP) yang berada di Jalan Letjen Suprapto Kawasan Kota Lama Semarang. Gedung ini merupakan cikal bakal organisasi buruh untuk memerdekakan diri dari penjajahan colonial Belanda.

Surat permohonan tertanggal 29 Mei 2015 tersebut ditujukan kepada Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Semarang, dengan tembusan kepada Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jateng dan Kepala Dinas Tata Ruang dan Permukiman (DTKP).

“Gedung ini memiliki arti penting bagi sejarah perburuhan, sejarah perkeretaapian, sekaligus sejarah pergerakan nasional di Indonesia. Maka, semestinya harus dilestarikan,” kata Yunantyo Adi, Sekretaris KSP dalam rilis tertulisnya.

VSTP—dalam bahasa Indonesia—adalah Serikat Buruh Kereta Api dan Tremberdiri pada tahun 1908, bareng dengan Boedi Oetomo, organisasi buruh menampakkan keradikalannya dalam melawan kolonialisme Belanda sejak kedatangan Henk Sneevliet pada tahun 1913, seorang bule Belanda yang mengajarkan kaum buruh Indonesia agar berjuang memerdekakan diri dari belenggu kolonialisme Belanda.

“Dalam pengajuan ini, kami juga melampirkan peristiwa sejarah yang lahir di eks kantor VSTP serta peran sejarah organisasi,” imbuh Yunantyo.

Pada masanya, Kantor VSTP di Heerenstraat atau di Jalan Purwodinatan, dan sekarang telah berganti nama menjadi Jalan Letjen Suprapto, digunakan sebagai pusat pengendali organisasi yang memiliki banyak cabang di Jawa dan Sumatera. Di sini kerap diselenggarakan rapat dan vergadering untuk membahas masalah perburuhan dan politik. Tempat ini juga biasa dijadikan sebagai titik simpul aksi massa, seperti dalam aksi pemogokan buruh percetakan dan penerbitan pada 10 Agustus 1925.

Yunantyo menambahkan, pergerakan nasionalisme kaum buruh VSTP juga pernah menjadi bahan penelitian sejarawan Undip Dr Dewi Yuliati. Bangunan ini berada di belakang Gereja Gedangan. “Gedung ini punya kaitan sejarah dengan kemerdekaan Indonesia. Itulah alasan kami mengajukan permohonan ini kepada TACB,” pungkasnya. (twy)

You might also like

Comments are closed.