Pekerja Asing Tak Bisa Bahasa Indonesia Bakal Dideportasi

SEMARANG – Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Kependudukan (Disnakertransduk) Jawa Tengah memperingatkan kepada para pekerja asing yang berada di wilayahnya. Kepala Disnakertransduk Jateng, Wika Bintang menyatakan penggunaan bahasa Indonesia bagi TKA di Jateng telah disosialisaisikan dan diterapkan pada 2016 lalu.

Ilustrasi.

“Jika ada yang melanggar aturan, ya di deportasi. Tapi yang melakukan adalah Imigrasi,” terang Wika kepada metrosemarang.com, Sabtu (5/5).

Ia menerangkan, pihaknya akan memastikan tiap pekerja asing apakah telah memenuhi persyaratan kualifikasi sebagai pekerja asing secara administrasi.

Aturan penggunaan bahasa Indonesia bagi pekerja asing diwajibkan oleh Pemprov Jateng dengan melampirkan sertifikat Bahasa Indonesia saat mengurus Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing (IMTA) baru maupun perpanjangan. Penggunaan Bahasa Indonesia itu sesuai aturan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bahasa dan Lambang Negara.

“Jika gagal menguasai Bahasa Indonesia, maka IMTA tak akan diperpanjang di tahun berikutnya,” tuturnya.

Karenanya, ia telah membentuk Satgas pengawasan orang asing yang bekerjasama dengan Polda dan Kantor Imigrasi. Jika benar-benar diterapkan dan dites kemampuannya, maka syarat ini menjadi filter efektif masuknya TKA.

“Kemampuan berbahasa Indonesia harus diwajibkan karena mempermudah transfer teknologi pada tenaga kerja asli Indonesia,” ungkapnya.

Ia menyebut jumlah pekerja asing yang bekerja di Jawa Tengah pada 2017 mencapai 2.119 orang. Jumlahnya naik dibanding kondisi tahun 2016 1.986 orang.

Untuk negara asal pekerja asing itu ada di 53 negara. Paling banyao dari Tiongkok ada 381 orang, Korea Selatan ada 207 orang, Jepang ada 105 orang, Taiwan ada 93 orang, dan India ada 87 orang. (far)