Pelajar SMK jadi Tersangka Pembunuhan, Komisi D Pertanyakan Fungsi Sekolah

METROSEMARANG.COM – Komisi D DPRD Kota Semarang prihatin dengan adanya kasus pembunuhan yang melibatkan anak didik di salah satu sekolah di Kota Semarang. Komisi yang membidangi pendidikan ini mengkritisi lemahnya pendidikan karakter dalam sekolah dan harus segera menjadi evaluasi bersama.

Imam Mardjuki. Foto: metrosemarang.com/masrukhin abduh

Anggota Komisi D DPRD Kota Semarang Imam Mardjuki mengatakan, pihaknya sangat prihatin dengan banyaknya masalah sosial yang melibatkan anak-anak didik, seperti perampokan, pencurian bahkan pembunuhan. Ia meminta agar ada perbaikan sistem pendidikan karakter di Sekolah.

“Saat ini banyak masalah sosial, perampokan, pencurian, pembunuhan, narkoba, free sex, dan lain-lain. Pelakunya didominasi oleh anak-anak usia sekolah. Pertanyaannya, di mana peran sekolah? Apa manfaat sekolah kalau anak didiknya seperti itu?,” ujarnya, Kamis (25/1).

Legislator dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) ini menggarisbawahi dua kegagalan fungsi sekolah saat ini. Kegagalan pertama, menurutnya, adalah ditempatkannya nilai akademik sebagai barometer utama keberhasilan pendidikan.

“Tujuan pendidikan adalah pembentukan karakter insan takwa, berapa pun nilai akademisnya. Bukan semata-mata nilai akademis yang bagus saja (yang diperlukan, red.),” terang Imam.

“Undang-Undang Pendidikan Nasional kita jelas sekali menunjukkan bahwa tugas pendidikan nasional adalah mewujudkan manusia Indonesia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,” lanjutnya.

Kegagalan kedua yang disampaikan anggota Komisi D ini adalah tidak adanya keterpaduan antara pola asuh di sekolah dengan pola asuh di rumah.

“Sekolah ngajari rajin salat, tapi di rumah orang tua tidak peduli anaknya mau salat atau tidak,” dia mencontohkan.

“Jadinya anak tidak terbentuk karakternya, karena dia melihat pola asuh yang berbeda bahkan berseberangan antara di sekolah dan di rumah,” tutupnya. (duh)

You might also like

Comments are closed.