Pelajaran Menggambar (Manusia) dan Kesadaran Lingkungan Hidup

drawing

AKTIVITAS menggambar dan selfie mempunyai konstruksi nalar berbeda. Tidak mungkin membendung efek selfie di jejaring sosial. Melalui workshop menggambar manusia, penyadaran lingkungan-hidup dan proses kreatif bisa dibentuk dari (luar) sekolah.

Siswa sekolah dasar, pada tahun 1980-an, suka menggambar gunung, area persawahan, pepohonan, dan burung-burung di atas awan. Kecenderungan ini menuai protes dengan dalih pembebasan kreativitas, sampai ada larangan di kelas,. Boleh menggambar bebas, tetapi jangan pemandangan hutan gunung sawah dan lautan. Tokoh inovasi pendidikan suka bicara dengan landasan teori psikologi dan kreativitas.

Harap diingat, Indonesia memiliki gunung dan bukit terbanyak di dunia. Ke manapun memandang, asalkan tidak di kota besar, pasti ada bukit, gunung, dan persawahan. Tidak ada yang salah jika anak-anak menggambar apa yang mereka lihat, apa yang mereka mimpikan. Anak-anak di kota besar, tidak jarang ingin foto di dekat sapi atau sungai, sesuatu yang hanya mereka lihat di film dan televisi.

Jika Anda mengamati foto selfie yang beredar di jejaring sosial, apa background mereka? Hutan, gunung, sawah, dan lautan.

Zaman telah berubah. Pegunungan Kendeng Utara yang tidak boleh disentuh di masa pemerintahan Presiden Soeharto, sekarang sudah dieksploitasi oleh swasta dan negara. Guru menggambar memang tidak mudah. Tidak semua guru kesenian memiliki keahlian menggambar.

Saya merasakan susahnya belajar menggambar kepada seorang mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Tugas saya mudah, yaitu mencari kertas bekas fotokopian sebanyak mungkin dan menggambar seperti buku “Human Drawing” (Menggambar Manusia). Buku ini bisa di-download gratis. Menggambar manusia itu paling dasar, paling sulit, tidak habis ditekuni seumur hidup.

Mengapa menggambar manusia?

Kalau belum bisa menggambar manusia, katanya, saya tidak akan mengerti (to know) dan memahami (to understand) lukisan. Manusia itu semuanya unik. Wajah manusia adalah gambar yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata (berbeda dari foto jurnalistik yang “bercerita” tentang suatu peristiwa). Aktivitas manusia, dalam sebuah gambar, menjelaskan banyak hal.

Saya mengajak kawan ini memberikan workshop “terselubung” yang agak gila. Kami mendatangi sebuah perumahan yang “terancam”. Sekitarnya: banyak bego (traktor pengeruk tanah), kekurangan air, dan orang-orang yang sebagian sibuk bekerja, lainnya sibuk beribadah. Potret apatisme bersebelahan yang sangat umum.

Kami menggambar manusia. Tak lama kemudian, dikerumuni anak-anak. Memang disengaja agar mereka datang. Mereka tertarik. Kami memberikan kertas, pensil, dan meminta mereka menggambar dengan satu catatan : gambar sekitar, ada aktivitas manusia. Mereka menggambar, sebisanya. Ada yang menggambar ibunya sedang mencuci di depan rumah, bapak-bapak sedang tongkrong di warung kopi, dan orang mengeruk tanah. Apakah gambarnya bagus? Sama sekali tidak. “Emosi” dan “impresi” anak-anak yang luar biasa, itu menariknya. Semua gambar itu bagus. Apalagi gambar tentang manusia dengan aktivitasnya.

Setelah itu, mereka menuliskan nama dan alamat lengkapnya. Sampai di sini, kami berdua mendapatkan nama, alamat, dan apa yang ada di sekitar mereka.

Besoknya, mereka datang lagi, meminta tugas lagi. Kami memakai metode “spiral”, yaitu flashback sedikit ke belakang sebelum memberikan pelajaran berikutnya. Mereka bercerita tentang gambarnya. Pelajaran ini sering dilupakan di sekolah. Siswa menggambar, tanpa mempresentasikan gagasannya, sampai besar nanti menjadi pelukis mereka tidak mau mempertanggungjawabkan gagasan karyanya. Anak-anak ini mampu menjelaskan gambarnya, “Ibu saya mencuci di depan rumah karena air sering macet. Bapak saya nongkrong di warung kopi sampai lama. Saya tidak tahu di sini mau dibangun apa, dulu banyak pohon di tanah ini.” Begitu mereka menjelaskan gambar demi gambar.

Tentu ada “evaluasi” dari kami, seputar teknik menggambar cepat, dasar-dasar yang mereka butuhkan untuk memvisualisasikan gagasan. Kalau menggambar anime ada triknya, begitu pula menggambar manusia. Bisa dengan cepat diberikan kepada anak-anak.

Tugas berikutnya, kami meminta mereka menggambar di tempat, yaitu, mendatangi tempat-tempat sekitar yang sebelumnya mereka “bayangkan” di tugas pertama tadi. Langsung ke lapangan, berbekal teknik dasar yang sudah kami berikan dalam evaluasi. Mereka bersemangat? Tentu tidak. Kami memberikan iming-iming berupa pameran. Kelak karya mereka akan kami pamerkan dan masuk koran. Mereka bersemangat.

Pada tugas kedua ini, hasilnya lumayan. Jelek tetapi tidak terlalu parah. Besoknya, kami mempertanyakan tempat. Di mana ini terjadi? Kami mengajak mereka membuat peta : 10 gambar, 10 titik, sebuah peta. Kami memberikan prinsip menggambar skala dan peta. Mereka tahu Utara dan apa pentingnya Utara bagi desa itu. Mereka tahu segitiga hijau yang mewakili perbukitan kecil dalam peta. Mereka lantas kehabisan kertas.

Kami punya stock kertas tetapi tidak lantas memberikannya dengan mudah. Di sebuah kabupaten tempat kami tinggal waktu itu, sebuah pantai dan ratusan kapal nelayan, punya penghasilan di atas 50 trilyun, pendapatan asli daerah (PAD) 300 milyar, untuk gaji pegawai negeri sipil (PNS) 500 milyar, per tahun. Korupsi sudah pasti di mana-mana. Anak kecil harus diajari survive dalam belajar. Kasusnya sekarang mereka tidak punya kertas. Kami berdua mengajari mereka “deal”. Kertas kosong kami sediakan, asal mereka mau mengumpulkan kertas bekas. Kami akan mengajarkan cara origami (seni lipat kertas asal Jepang) dan membuat kerajinan tangan dari kertas daur-ulang selama beberapa hari. Tugas dasar tetap : menggambar dan menggambar. Selain itu, selama mengumpulkan kertas bekas, mereka harus mencatat merk-merk benda yang masuk ke tempat sampah di rumah mereka masing-masing.

Keuangan dan tingkat pendidikan seseorang bisa dilihat dari sirkulasi sampah. Mereka mencatat kopi saset dan merknya, deterjen, dll. Hanya perlu 3 hari untuk melakukan pengawasan seperti ini. Mereka jadi mengerti apa itu sampah, mengapa produk-produk dari pasar dan swalayan mengalir ke rumah mereka, dari apa kertas dibuat dan bagaimana daur-ulang terjadi. Mereka senang belajar origami dan terus menggambar.

Selama ini, anak-anak belajar dengan fasilitas yang terberikan, mereka tidak diberi penalaran tentang produksi. Mereka mengkonsumsi tetapi tidak tahu jika mereka bisa membuat “sesuatu” dari kertas yang terbuang. Mereka selalu membutuhkan dan meminta, tidak menghasilkan sesuatu. Mental “buat sendiri” tidak tertanam dengan baik di sekolah.

Hanya dengan awalan bernama “menggambar manusia”, kami berdua dan 10 anak tadi, sudah mendapatkan banyak pengalaman : teknik menggambar, mengamati aktivitas, seni bercerita, menggambar skala dan peta, kesadaran lingkungan, memproduksi kertas daur-ulang, dan terus menggambar tanpa lelah.

Selain itu, kami mendapatkan banyak data : nama, umur, alamat, hobi, perilaku, latar belakang keluarga, pilihan-pilihan mereka, dan proses kreatif yang tak-ternilai.

Pada minggu ketiga, gambar mereka semakin bagus, selain itu, mereka sudah ingin memakai kanvas, cat, dan dipamerkan untuk masuk koran. Kami hanya membutuhkan sebuah label event untuk mengajak anak lain mengikuti jejak sanggar menggambar ini. Gambar manusia di mana-mana.

Mereka tidak tahu Jeihan, Affandi, Nasirun, Modigliani, ataupun Picasso. Mereka tidak hanya belajar, mereka juga “punya” kertas sendiri, bisa membeli pensil warna dari kerajinan kertas yang mereka buat sendiri.

Barulah tiba saatnya,, kami memperkenalkan mereka kepada publik, dalam pameran kecil. Sebuah pameran yang tidak steril, karena di situ ada pula kerajinan kertas, penjelasan si pembuat, dan demo menggambar langsung di situ,. Saya dapat kanvas dan acrylic, bisa mendatangkan beberapa kawan dari kota.

Para pengunjung dalam diskusi terbuka, mulai mempertanyakan : kenapa ada gambar tanah dikeruk? mengapa ibu-ibu mencuci di depan rumah? Anak-anak ini pula yang menjelaskan apa yang sedang terjadi.

Bukan soal apa yang mereka gambar sebenarnya yang perlu diresahkan. Mereka bebas menggambar gunung ataupun laut, asalkan ada aktivitas manusia di sana. Jika kemudian kita melihat ada anak kecil menggambar, tanpa aktivitas manusia, rasanya seperti melihat tempat mati. Laut tanpa nelayan, gunung tanpa manusia berjalan, dan persawahan yang hanya berisi memedi sawah. Gambar yang menakutkan.

Apa yang sekarang terlihat di jejaring sosial, yang penuh foto manusia (mereka tidak perlu menggambar), pelan-pelan semakin menutup kemampuan manusia untuk menggambar, menggoreskan apa yang mereka pikirkan. Kebanyakan orang dewasa, di jejaring sosial, sudah telanjur berkebiasaan memindahkan apa yang mereka lihat, dari mata turun ke Facebook.

Selagi masih menjumpai anak-anak yang suka mengabadikan hutan gunung sawah dan lautan di gambar, asalkan masih ada aktivitas manusia, betapa menyenangkan. Apalagi jika mereka mengerti dan memahami apa yang sedang mereka pikirkan menjadi sebuah gambar. Mereka akan menjadi cerdas dan punya kesadaran lingkungan-hidup yang tinggi.

Workshop “terselubung” yang kami lakukan, akhirnya berhasil. Banyak anak lain ingin ikut belajar menggambar manusia. Kami mulai menyiapkan workshop membuat komik dan menulis cerita. Sepertinya menarik nanti.

Sudahkah Anda menggambar aktivitas manusia hari ini?

 

Day Milovich,,

Webmaster, artworker, penulis, tinggal di Rembang dan Borobudur.

You might also like

Comments are closed.