Pelecehan Seksual Dominasi Kasus Kekerasan terhadap Perempuan di Semarang

METROSEMARANG.COM – Para aktivis pro perempuan di Semarang hari ini, Rabu (8/3), memperingati perayaan International Womens Day (IWD). Bahkan, sejumlah aktivis dari Legal Resources Center untuk Keadilan Jender dan Hak Asasi Manusia (LRC-KJHAM) menemukan banyaknya perempuan lokal yang mengalami kekerasan seksual baik di lingkungan sekitar maupun di rumahnya.

Aktivis perempuan menyerukan pengesahan RUU PKS, beberapa waktu lalu. Kekerasan seksual masih mendominasi di awal 2017. Foto: metrosemarang.com/dok

“Apabila dilihat dari bentuk kekerasannya, ternyata kekerasan seksual masih mendominasi dengan jumlah 72,32 persen atau 64 korban, kemudian kekerasan fisik 14,6 persen dan kekerasan psikis sekitar 9,04 persen,” ungkap Divisi Informasi dan Dokumentasi LRC-KJHAM, Citra Ayu Kurniawati saat dikonfirmasi metrosemarang.com.

Citra menegaskan fakta tersebut menyeruak pada awal 2017 atau hanya selang sehari sebelum pihaknya merayakan IWD di Kota Lumpia.

Tak hanya itu saja, kata Citra, hingga awal Februari total terdapat 58 kasus. Kasus yang paling banyak, menurutnya yaitu tindak Kekerasan dalam pacaran (KdP) mencapai 19 kasus atau 11,02 persen.

Kemudian disusul Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) ditemukan sebanyak 14 kasus atau 8,2 persen, kasus perkosaan ada 12 kasus atau 6,96 persen, perbudakan seksual ada 7 kasus atau 4,06 persen, buruh migran ada 2 kasus atau 1,16 persen,  prostitusi ada 2 kasus atau 1,16 persen, dan pelecehan seksual sekitar 1,16 persen.

Ia pun menyatakan tingginya perempuan yang mengalami kekerasan seksual sehingga mereka butuh dukungan dari elemen masyarakat.

“Dengan situasi saat ini yang tidak sebanding dengan perlindungan hukum yang ada di Indonesia. Korban kekerasan seksual masih mengalami banyak hambatan dan tantangan dalam mendapatkan hak-haknya. Tidak adanya undang-undang kusus yang melindungi perempuan korban kekerasan seksual. Kami berharap bahwa Pemerintah segera mengesahkan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual,” tuturnya.

“Ini jadi bukti bahwa diskriminasi masih terjadi dan kerap menimbulkan kekerasan terhadap perempuan,” katanya. (far)

You might also like

Comments are closed.