Pembangunan Lahan Makam Baru Terkendala Penolakan Warga

Lahan makam di Semarang semakin menyempit. Pemkot pun meminta kepada pengembang perumahan agar menyediakan lahan untuk pemakaman warga. Foto: metrosemarang.com/dok
Lahan makam di Semarang semakin menyempit. Pemkot pun meminta kepada pengembang perumahan agar menyediakan lahan untuk pemakaman warga. Foto: metrosemarang.com/dok

SEMARANG – Mengantisipasi Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang semakin sempit agar mampu menampung jenazah, Kepala Dinas Tata Kota dan Permukiman (DTKP) Kota Semarang, Agus Riyanto sedang mengupayakan penambahan TPU baru. Namun diakuinya banyak kendala yang dihadapi, di antaranya penolakan warga sekitar terhadap pembukaan lahan untuk makam di sekitar mereka.

Oleh karena itu, dia meminta pada pengembang perumahan untuk lebih menaati peraturan untuk menyediakan Fasilitas Umum dan Fasilitas Sosial (Fasum/Fasos). “Kami meminta agar pengembang perumahan mematuhi aturan yang berlaku, yakni menyediakan lahan 20 persen dari lahan total mereka untuk digunakan sebagai fasum dan fasos. Dari total lahan tersebut, sekitar 2 persen di antaranya, wajib digunakan sebagai TPU,” kata dia, Selasa (4/8).

Cara ini dinilai cukup efektif karena pengembang merespon positif. BSB bahkan sudah menyediakan 20 hektar dari lahan yang mereka kembangkan khusus untuk TPU dan akan diserahkan ke Pemkot, begitupun Graha Padma akan menyerahkan 2 hektar lahan di kawasan Tugu juga khusus untuk areal pemakaman.

Selain itu, Agus juga akan mengajak serta para pengembang kecil untuk bersama-sama membeli lahan guna membuat TPU. Dengan demikian, kewajiban mereka memberikan 20 persen lahan untuk fasum/fasos tetap dapat terpenuhi.

Pengembang lahan yang tanahnya hanya sekitar 1 hektar akan diajak bersama-sama menggabungkan fasum/fasos, termasuk untuk TPU agar tidak terpisah-pisah dalam luasan yang kecil. (ade)

You might also like

Comments are closed.