Pembongkaran Gedung Samudera Indonesia di Kota Lama Sudah Seizin BP2KL?

METROSEMARANG.COM – Polemik pembongkaran salah satu bangunan kuno di Kota Lama terus bergulir. PT Samudera Indonesia selaku pemilik gedung di Jalan Perkutut No 4 tersebut mengklaim pembongkaran tidak menyalahi prosedur dan sudah seizin Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BP2KL).

Permasalahan itu mengemuka dalam musyawarah yang digelar di aula Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara, Selasa (8/3) siang tadi. Selain gedung Samudera Indonesia, pertemuan itu juga membahas tentang keberadaan Persatuan Pedagang Barang Seni (Padangrani).

Musyawarah di aula Kelurahan Tanjung Mas, Selasa (8/3). Foto: metrosemarang.com/khoiruddin muhammad
Musyawarah di aula Kelurahan Tanjung Mas, Selasa (8/3). Foto: metrosemarang.com/khoiruddin muhammad

Pihak PT Samudera Indonesia tetap melanjutkan proses pembangunan gedung yang rencananya dibuat tiga lantai. General Affair PT Samudera Indonesia Wahyono menegaskan bahwa tidak ada masalah terkait pembongkaran bangunan lama dan pembangunan gedung baru.

Pihaknya mengaku memiliki dasar hukum kuat untuk melakukan pembongkaran dan telah mengantongi izin pembongkaran dari pemerintah setempat dan BPK2L. “Kami sudah izin lurah dan camat, sudah clear semua masalah perizinan,” katanya.

Wahyono mengungkapkan, pembangunan gedung itu juga sudah sesuai tupoksi dan kajian mendalam oleh BPK2L. Rekomendasi BPK2L untuk pengajuan IMB kepada Kepala Badan Pelayanan Perijinan Terpadu Pemerintah Kota Semarang pun telah turun tertanggal 29 Juli 2015.

Menurutnya, bangunan yang dibongkar bukanlah merupakan cagar budaya seperti penilaian sejumlah warga. “Yang kami yang bukan cagar budaya. Kalau yang cagar budaya itu bangunan yang di depan, nanti malah kita akan renovasi dengan bentuk seperti sedia kala,” cetusnya.

Dia menambahkan, PT Samudra Indonesia telah menempati gedung itu sekitar 50 tahun. Pembangunan gedung baru sangat dibutuhkan mengingat kondisi bangunan sudah cukup tua dan lapuk. Selain itu, lingkungan bangunan juga sering dilanda banjir.

Selain perwakilan PT Samudera Indonesia, musyawarah tersebut juga dihadiri pihak kelurahan, kecamatan, Polsek Semarang Utara, Dinas Perhubungan Kota Semarang, Padangrani dan Satpol PP. Pada prinsipnya, semua pihak mendukung langkah pemerintah untuk menjadikan kota lama menjadi salah satu destinasi wisata di Kota Semarang.

Sementara, pengurus Padangrani, Teguh Gunawan mengatakan, keberadaan pedagang selain berjualan barang-barang antik, juga ingin menjadi salah satu ikon pariwisata tambahan di Kota Lama. Mereka juga menolak disebut PKL.

“Kami berdagang di sini untuk ikut memajukan pariwisata Kota Semarang, kami bukan PKL seperti pedagang di pinggir jalan yang tidak resmi,” kata Teguh. (din)

 

You might also like

Comments are closed.