Pembuatan Tracking Mangrove Tapak Terganjal Masalah Lahan

METROSEMARANG.COM – Sejumlah petani magrove menagih janji Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi agar lekas mewujudkan pembangunan jalur setapak (tracking) yang mengelilingi hutan mangrove di Kampung Ngebruk Mangunharjo, Kelurahan Mangkang Wetan Kecamatan Tugu.

Kawasan mangrove di Tapak Kecamatan Tugu. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

“Kita menagih ke Pak Wali Kota agar segera dibuatkan tracking. Terutama terkait fungsi TPI Mangunharjo yang selama ini tidak terpakai maka lebih baik dibuatkan galeri untuk mendukung wisata mangrove,” cetus Nurhayati, seorang pengurus kelompok petani dari Paguyuban Mangrove Lestari kepada metrosemarang.com, Selasa (28/2).

Ia menyatakan banyak potensi yang dapat digarap untuk mengembangkan mangrove Tapak jadi destinasi wisata alam. Ia bilang di desanya sejak lama sudah punya sentra pengolahan makanan, sentra ikan hingga pusat kerajinan berbahan baku tanaman mangrove.

Menurutnya pihak swasta kini juga masih menunggu kesiapan Pemkot untuk bekerjasama merealisasikan proyek tersebut.

“PT Djarum sebenarnya berani mendanai (pembuatan tracking) tapi mereka minta syarat tanahnya harus punya Pemprov, sebab kalau lahannya milik pengembang takutnya setelah dibuat bagus nanti malah kena gusur,” ungkap Nur lagi.

Lebih jauh, ia menuturkan tracking hutan mangrove telah dirancang akan dibangun sejauh 1 kilometer dari ujung jalan desa hingga memutari hutan mangrove. Sedangkan untuk luasan hutannya sendiri kini telah mencapai sekitar 3-4 hektare.

“Trackingnya akan dibuat dari ujung kampung sampai hutan mangrove. Kalau akses jalannya kami berharap bisa dibuatkan dari hilir Sungai Beringin sampai TPI Mangunharjo. Biar bangunan bisa bermanfaat. Apalagi selama ini sering didatangi wisatawan,” katanya.

Pembuatan tracking ke depan harus dibarengi dengan pelebaran sekaligus pembersihan Kali Beringin. Ini penting, menurutnya agar sampan-sampan nelayan dapat mengantarkan pengunjung untuk menyusuri sungai.

“Banyak turis yang mampir lihat mangrove, mulai dari Italia, Perancis, Jerman hingga Jepang. Mereka dari International World Climet yang meneliti soal pengaruh abrasi pantai,” ujar Nur.

Ia menambahkan bahwa proyek tersebut kini disambut positif oleh puluhan petani mangrove yang terbagi empat kelompok usaha. Paguyuban Mangrove Lestari sendiri punya 12 anggota yang selama ini bergelut pada budidaya mangrove. (far)

You might also like

Comments are closed.