Pembunuhan, Peceklik Pegawai Negeri, dan Harapan Musim Penghujan

Kejahatan tengah malam, pelakunya berumur belasan tahun. Agaknya kita semua harus waspada.

Peristiwa pembunuhan itu mengingatkan kita pada peristiwa kriminal yang terjadi di Universitas Diponegoro, kampus Tembalang, Semarang pekan sebelumnya.

TUBUH seorang penjual pakan ternak tergeletak bersimbah darah di pinggir Jalan Rejosari Raya, Purwosar, Semarang Timur, Rabu (29/8/2018). Kasim Riyadi, nama penjual pakan itu. Ia tewas di umur 35 tahun. Seorang pemuda berumur 19 tahun bernama Robi, disangka membunuh Kasim.

Robi adalah penjaja empek-empek yang kebetulan bertemu Kasim di jalan menjelang tengah malam. Kasim, warga Kebumen itu, sedang dalam tugas mengantarkan pakan ternak dari Banjarnegara ke Semarang. Saat beristirahat di dekat gudang pakan, Robi mendekati Kasim dan meminta rokok.

Tak diberi rokok, Robi yang mengaku mengonsumsi minuman keras sebelum bertemu Kasim, lantas menemukan pisau di warung pecel dan menusukkannya ke tubuh Kasim. Kasim pun tewas.

Peristiwa pembunuhan itu mengingatkan kita pada peristiwa kriminal yang terjadi di Universitas Diponegoro, kampus Tembalang, Semarang pekan sebelumnya. Jumat (24/08/2018) seorang mahasiswa Teknik Mesin Universitas Diponegoro diserang oleh empat orang. Para terduga pelakunya merupakan remaja berumur 14-16 tahun. Ada luka sayat di kepala mahasiswa itu, sehingga harus dijahit.

Kejahatan tengah malam, pelakunya berumur belasan tahun. Agaknya kita semua harus waspada. Semoga saja polisi lebih meningkatkan pengamanan di kota ini.

Tim Inafis mengevakuasi jasad korban pembunuhan ke RSUP Dr Kariadi, Rabu (29/8/2018). Foto: metrojateng.com/efendi

 

Paceklik Pegawai

Pemerintah Kota Semarang kekurangan pegawai. Selama lima tahun terakhir, pemerintah kota kekurangan sekitar 3.000-an Aparatur Sipil Negara (ASN). Dalam delapan tahun terakhir, telah ada hampir 8.000 ASN yang pensiun. Namun ASN baru yang masuk ke pemerintahan hanya 5.000-an.

Akibatnya, terjadi kekosongan di beberapa titik pelayanan. Pelayanan kepada masyarakat bisa berjalan, namun tak secepat yang diharapkan. Ihwal kekurangan itu, telah disampaikan kepada Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Namun sampai sekarang belum mendapat tanggapan.

Alhasil, Pemerintah Kota Semarang merekrut pegawai non-ASN untuk titik-titik yang tidak membutuhkan keahlian khususdan pemikiran berlebih.

infografik: Habib Lutfi (Magang)

Harapan Musim Hujan

Sementara, musim kemarau yang tahun ini bisa dikatakan lumayan panjang, menemui harapan. Hujan turun di Semarang pada 1 September 2018 lalu. Berdasar prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Jawa Tengah, hingga 6 September mendatan, Pulau Jawa pada umumnya berawan hingga diguyur hujan ringan.

Hal yang patut disyukuri, mengingat dampak kemarau, dimana tidak ada hujan sama sekali dalam 60 hari berturut-turut ini telah membuat 404 desa di 135 kecamatan dan 18 kabupaten di Jawa Tengah mengalami kekeringan. Penyakitpun berdatangan, seperti sesak nafas dan sakit kepala. Selain itu, bahaya kebakaran hingga konflik dengan satwa liar juga mengancam. (*)

You might also like

Comments are closed.