Pemerintah Dianggap Lambat Tangani Bangunan Cagar Budaya di Lapas Bulu

METROSEMARANG.COM – Kepala Lapas Wanita Kelas II Semarang (Lapas Bulu), Suprobowati mengeluhkan lambatnya penanganan terhadap salah satu bangunan cagar budaya di dalam lapas tersebut. Dia khawatir jika tak segera direnovasi, bangunan yang digunakan sebagai ruang pelatihan itu bisa membahayakan warga binaan.

“Saya sudah sampaikan ke Pak Gubernur tiga kali, ke Wali Kota Semarang saya menghadap bikin proposal sudah, bikin telaah juga sudah. Tim cagar budaya sudah dua kali ke sini. Tapi sampai saat ini belum terealisasi (renovasi),” kata Suprobowati, belum lama ini.

Bangunan cagar budaya di dalam Lapas Wanita Bulu Semarang. Foto: metrosemarang.com/khoiruddin muhammad
Bangunan cagar budaya di dalam Lapas Wanita Bulu Semarang. Foto: metrosemarang.com/khoiruddin muhammad

Padahal, lanjutnya, keberadaan gedung tersebut sangat membantu kegiatan warga binaan lapas setempat dan difungsikan sebagai ruang pelatihan. Gedung yang sudah berusia lebih dari satu abad itu mampu menampung ratusan warga binaan.

“Terakhir Pj Wali Kota Semarang menyampaikan bahwa akan ditindaklanjuti setelah Pilkada kemarin. Sekarang Pak Hendi sudah jadi Wali Kota belum juga terealisasi,” sambungnya.

Belum terealisasinya renovasi bangunan cagar budaya tersebut membuat warga binaan terpaksa melakukan pelatihan di teras halaman gedung atau tenda. Suprobowati berharap agar pemerintah segera merenovasi gedung tersebut. “Mudah-mudahan Pak Gub nanti bisa tergerak hatinya,” katanya.

Menurut Suprobowati, untuk merenovasi bangunan cagar budaya tersebut sesuai bentuk aslinya dibutuhkan dana yang cukup besar. “Saya mengajukan anggaran ke Kementerian Rp 900 juta, tetapi tahun 2016 tidak turun sama sekali,” tandasnya.

Sebelumnya, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Yasonna Laoly berjanji akan membantu perbaikan Lapas Klas II A Wanita Bulu Semarang. Hal itu diungkapkan saat melakukan kunjungan ke lapas tersebut pada 12 Juni 2015 silam.

Saat berkunjung di Lapas Bulu, politisi PDI Perjuangan ini menyoroti salah satu bangunan rapuh yang sebelumnya digunakan untuk tempat pelatihan keterampilan warga binaan. Menkumham pun berjanji akan berusaha memfasilitasi untuk rehabilitasi bangunan yang berada di sisi kanan setelah pintu masuk tersebut. “Kami harus ketemu Gubernur atau Wali Kota untuk membahas masalah ini,” katanya.

Menurut dia, Kemenkumham tidak bisa membantu sepenuhnya karena keterbatasan anggaran. Dia berharap, perbaikan bisa dilakukan secepatnya karena bangunan tersebut membantu produktivitas warga binaan dalam menghasilkan barang-barang kerajinan. (din)

You might also like

Comments are closed.