Pemilu 2019, Antara Perdebatan dan Meninggalnya Belasan Petugas Penyelenggara

Ini adalah pemilihan pertama yang menggabungkan antara pemilihan presiden dengan pemilihan anggota parlemen.

Sepanjang pekan ini, kabar-kabar yang tersiar didominasi berita tentang Pemilu. Menjelang Pemilu 17 April 2019, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jawa Tengah, Wika Bintang meminta para pengusaha untuk meliburkan para buruhnya saat masa coblosan. Dengan begitu, para buruh mampu menyalurkan hak suaranya dalam Pemilu 2019.

Para pengusaha yang nekat tidak meliburkan buruhnya bisa dikenai hukuman. Sementara, jika para buruh tetap masuk kerja wajib mendapat uang lembur.

Apindo Jateng mengklaim telah mengimbau anggotanya untuk meliburkan para pekerja. Apindo Jateng memiliki 1.600 anggota yang bergerak di bidang bisnis garmen, tekstil dan sebagian kecil punya pabrik-pabrik besi baja, perkayuan dan UMKM.

Persiapan Pemilu yang dilakukan di Kabupaten Kendal. (foto: metrojateng.com/Edi Prayitno)

 

Belasan Petugas TPS Meninggal

Pemilu 2019 di Indonesia disebut-sebut merupakan salah satu pemilihan umum terbesar di dunia. Ini adalah pemilihan pertama yang menggabungkan antara pemilihan presiden dengan pemilihan anggota parlemen. Karenanya, tugas dan tanggung jawab penyelenggaranya pun berat.

Dipicu oleh tugas yang berat itu, belasan petugas penyelenggara Pemilu 2019 di Jawa Tengah, dilaporkan meninggal dunia. Ada yang meninggal usai pelaksanaan Pemilu, ada yang tumbang dan harus dilarikan ke rumah sakit tepat pada saat bertugas, hingga ada yang mencerita luka-luka saat bertugas.

Tugas yang harus dilaksanakan penyelenggara Pemilu 2019 memang sangat berat. Mereka mulai mempersiapkan TPS sejak H-1 sore hari. Kemudian hari H, mereka sudah harus bekerja sebelum pukul 07.00. Ditambah lagi, adanya kesulitan ketika harus bertemu pemilih yang beragam.

 

Jokowi-Ma’ruf Menang?

Hasil Pemilu 2019 yang disiarkan lewat beberapa lembaga yang melakukan hitung cepat, memicu perdebatan antar pendukung pasangan calon presiden-wakil presiden. Pasangan Joko Widodo – Ma’ruf Amin sendiri dielu-elukan telah memenangkan suara di Jawa Tengah berdasarkan hasil hitung cepat tersebut.

Pengamat politik Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Teguh Yuwono mengatakan, Jawa Tengah hampir bisa dipastikan dikuasai oleh pasangan calon presiden nomor urut 01 karena merupakan basis PDI Perjuangan terbesar. Loyalitas pemilih Jokowi di Jateng terbilang sangat solid sehingga bisa meraup suara lebih dari 70 persen.

Kendati Prabowo-Sandi mencoba menggempur basis massa dengan cara mendirikan posko pemenangan di Jawa Tengah saat masa kampanye lalu, hal tersebut tidak terlalu berpengaruh karena gerakan PDI Perjuangan di Jawa Tengah dilakukan bertahun-tahun lalu.

Kendati demikian, tidak seluruh wilayah di Jawa Tengah berhasil dikuasai Jokowi-Ma’ruf. Salah satunya di Kabupaten Sukoharjo. Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden nomor 01, Joko Widodo-Ma’ruf Amin kalah telak di dua TPS yang berada di area Markas Grup II Kopassus atau Kandang Menjangan, Desa Pucangan, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo. Sementara, KPU sendiri belum mengeluarkan hasil penghitungan suara yang mereka lakukan.

 

Nihil Gangguan Keamanan

Meski perdebatan terus terjadi usai Pemilu 2019 ini, namun pelaksanaan Pemilu ini secara keseluruhan bisa dibilang tanpa gangguan keamanan yang berarti. Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono bersama Pangdam IV Diponegoro Mayjen TNI Moch Effendi melakukan pengecekan di beberapa wilayah pemungutan suara.

Selain Semarang, pengecekan dan pemantauan dilakukan di wilayah Magelang, Temanggung, juga Solo. Menurut Kapolda, kondisi seluruh wilayah yang ia pantau cukup aman. (*)

Comments are closed.