Pemkot Didesak Selesaikan Pembebasan Lahan untuk Normalisasi Sungai Beringin

Kali Beringin (Foto metrosemarang.com/dok)

 

METROSEMARANG – Pembebasan lahan untuk normalisasi Sungai Beringin di Kecamatan Tugu Kota Semarang didesak harus segera direalisasikan. Di samping banyak hunian di bantaran sungai yang harus direlokasi normalisasi juga sudah diajukan ke Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk dilelangkan pada tahun ini.

‘’Kami sudah ajukan lelang ke Kementerian PUPR pada tahun ini, sehingga setidakya di tahun 2019 normalsiasi sudah akan dimulai pekerjaan fisiknya dengan durasi penyelesaian selama 3 tahun dengan nilai mencapai Rp177 miliar,’’ kata Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana, Ruhban Ruzziyatno, Minggu (22/4).

Dari 302 bidang tanah atau 13,5 hektare yang akan terdampak normalisasi, menurutnya baru sekira 145 bidang tanah atau 8,1 hektare yang sudah dibebaskan. Sehingga masih menyisakan sekira 5,4 hektare yang diminta harus segera dibebaskan oleh Pemerintah Kota Semarang.

Ruhban mengatakan, sesuai dengan desainnya dalam normalisasi Sungai Beringin nanti lebarnya dibuat menjadi 35 meter, dengan ketinggian dari muka air sampai parapet setinggi 4 meter. Sungai Beringin memilik panjang relatif pendek sekira 20 kilometer dari hulu sampai hilir, namun seiringi waktu mengalami penyempitan badan sungai sehingga sering melimpas ke permukiman warga ketika terjadi banjir.

‘’Kami butuh lahan relatif lebih besar dari yang dibebaskan karena patokan kami banjir bandang 50 tahunan. Makanya kami berharap persoalan sosial termasuk pembebasan lahan harus segera selesai, karena di bantaran sungai banyak hunian yang harus direlokasi,’’ tegasnya.

Ruhban juga berharap, selain nantinya ada normalisasi sungai, juga harus ada upaya untuk menampung air di wilayah hulu sungai dengan membuat embung atau melalui sistem biopori oleh warga masyarakat. Sehingga dapat mengurangi debit air dan mencegah melimpas ke permukiman.

‘’Ada perubahan tata ruang wilayah di kawasa n hulu Sungai Beringin dari wilayah hijau menjadi saat ini kawasan pemukiman. Sehingga harus tetap menampung air dari wilayah hulu untuk dapat mengurangi debit air,’’ tandasnya. (duh)

Comments are closed.