Pemkot Semarang, Kembangkan Energi Listrik Dari Sampah

*Investasikan Rp 2,5 Triliun Untuk PSEL

Kerja Sama – Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi melakukan penandatangan  kesepakatan induk Fasilitas Project Development Facility (PDF) yang merupakan kerja sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) PSEL Jatibarang yang dilakukan secara virtual. Foto : ist/metrosemarang.com

 

SEMARANG – Pemkot Semarang merealisasikan kerja sama dengan Kementrian Keuangan (Kemenkeu) untuk pembangunan proyek pengolahan sampah menjadi Energi Listrik atau PSEL Jatibarang. Kerja sama ditandai dengan penandatangan  kesepakatan induk Fasilitas Project Development Facility (PDF) yang merupakan kerja sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) PSEL Jatibarang yang dilakukan oleh Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi secara virtual.

Hendrar Prihadi mengatakan PSEL merupakan proyek yang sangat mendesak mengingat semakin meningkatnya volume sampah yang dihasilkan di Kota Semarang yang mencapai 1.300 ton per hari.

Apalagi proyek PSEL Jatibarang, lanjutnya,  termasuk ke dalam salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) berdasarkan Perpres Nomor 3 /2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional, dan Perpres 35/2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan.

“Kami berterima kasih atas diselenggarakannya penandatanganan ini sebagai wujud dukungan dari Pemerintah Pusat yang sebelumnya juga diberikan mulai dari penyusunan kajian prastudi kelayakan, dokumen lelang, dan mendampingi PJPK dalam transaksi proyek KPBU hingga mencapai pembiayaan dari lembaga pembiayaan (financial close),” ujar Hendi panggilan akrab Hendrar Prihadi itu, Selasa (2/2).

Dia mengharapkan perencanaan yang telah disusun Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang bersama Bappenas pada 2018 dapat segera terealisir, yang ditargetkan 2021 sudah dapat lelang investasi paling lambat Triwulan II/2021 dengan asumsi 1,5 tahun proyek berjalan agar PSEL dapat segera terwujud.

“Selama ini kita telah berkoordinasi dengan dewan dalam menyiapkan Perda KPBU PSEL Jatibarang serta penyusunan anggaran. Pemkot Semarang telah menganggarkan Tipping Fee  Rp100 milyar per tahun atau sekitar Rp 274.000 per ton pada APBD. Ini bagian dari komitmen kami untuk segera merealisasikan PSEL di Kota Semarang,” tuturnya.

Nilai investasi dari proyek PSEL ini diperkirakan mencapai Rp2,5 trilyun. Namun optimis bukan besaran nilai proyek yang diangkat melainkan substansi utama bahwa Pemkot Semarang dapat turut mengatasi persoalan sampah yang ada di Kota Semarang, Indonesia, dan dunia.

“Melalui proyek ini diharapkan sampah yang notabene barang yang tidak berguna dapat menjadi sesuatu yang bermanfaat dan persoalan sampah di Kota Semarang dan hinterland dapat kita atasi bersama,” ujar Hendi.

Sementara itu, Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Resiko Luky Alfirman menuturkan penandatanganan PDF ini merupakan tindak lanjut atas persetujuan prinsip Menteri Keuangan atas Proyek KPBU Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Jatibarang atau dikenal Proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (KPBU PSEL) Jatibarang yang diajukan oleh Wali kota Semarang.

“Apalagi masih ada sebagian orang yang membuang sampah sembarangan bahkan di sungai, serta manajemen sampah dan sanitasi yang belum memadai ini dapat menimbulkan berbagai penyakit mulai dari kelainan, gizi buruk, bayi stunting, serta hepatitis. Maka pemerintah melalui regulasi tersebut melakukan upaya agar dapat mengelola sampah dengan baik dan mengurangi resiko penyakit yang ada di lingkungan kita,” tuturnya. (tya)

Comments are closed.