Penangkis Serangan Thailand dan Soal Hewan-Hewan

78 Ikan Berbahaya Dimusnahkan di Semarang

Menjelang Hari Raya Idul Adha, sejumlah pedagang hewan kurban ternyata memperdagangkan hewan yang belum cukup umur.

KABAR gembira datang mengakhiri pekan lalu. Ernando Ari Sutaryadi, kiper Timnas U-16 Indonesia asal Semarang berhasil menangkis tendangan dua pemain Timnas U-16 Thailand saat adu penalti di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Jawa Timur. Momen itu sekaligus membawa Timnas U-16 Indonesia meraih gelar juara piala AFF U-16.

Wajah Ernando lantas menghiasi berbagai media lokal di Semarang. Tak ketinggalan media sosial yang mengusung konten tentang Semarang. Pemerintah Kota Semarang tak ketinggalan. Wali Kota Hendrar Prihadi mengundang Ernando dan Kartika Vedayanto yang juga memperkuat Timnas U-16. Muncul harapan pada kedua atlet itu untuk memperkuat klub PSIS.

Kegembiraan terus berlangsung. Warga Semarang dilingkupi suasana perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-73. Di kota ini, beragam cara dilakukan untuk menyambut dan memperingati hari penting tersebut. Ada yang menggelar upacara di tengah sungai, ada yang mengemas upacara menjadi pertunjukan ala teater, ada pula yang menggelar pawai memamerkan hasil bumi.

 

Hewan Kurban Tak Cukup Umur

Namun, di tengah kegembiraan itu, ada yang perlu di waspadai. Menjelang Hari Raya Idul Adha, sejumlah pedagang hewan kurban ternyata memperdagangkan hewan yang belum cukup umur. Di sisi lain, muncul kekhawatiran adanya sapi pemakan sampah yang turut diperdagangkan untuk kurban.

Pasalnya, di TPA Jatibarang, tempat pembuangan akhir sampah di Semarang, terdapat sapi-sapi yang digembalakan. Dinas Pertanian Kota Semarang melarang penjualan sapi pemakan sampah untuk kurban. Sapi Pemakan sampah tidak layak konsumsi karena mengandung logam berat. Selain melarang, dinas juga melakukan pemeriksaan, 60 petugas disebar ke lapak-lapak pedagang hewan kurban.

Setelah pemeriksaan, petugas Dinas Pertanian menyebut tidak ada sapi pemakan sampah yang diperjual belikan di Semarang. Kepala Dinas Pertanian Semarang, Wahyu Permata Rusdiana berdalih, sapi yang dijual di Semarang berasal dari Sragen, pacitan, Grobogan, Wonogiri dan Boyolali. Ia juga menyebut jika sapi yang masuk ke Semarang wajib dibekali surat keterangan sehat.

infografik: Habib (magang)

 

Ancaman Bagi Penggemar Burung

Masih seputar hewan. Sejumlah penggemar burung berkicau di Jawa Tengah dan Yogyakarta yang menggabungkan diri dalam Aliansi dan Forum Kicau Mania Indonesia wilayah Semarang berunjuk rasa di depan kantor DPRD Kota Semarang. Mereka memprotes Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P20/2018 tentang Jenis dan Satwa yang Dilindungi.

Peraturan tersebut dikhawatirkan mengganjal aktifitas mereka, sehingga berdampak pada keadaan ekonomi penggemar burung berkicau. Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam Jawa Tengah menyatakan, seluruh burung yang diikutkan dalam kontes kicau, wajib ditandai dengan cincin pada kakinya. Hal itu demi menegakkan peraturan menteri tersebut.

Sementara, Balai Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu Kelas II Semarang memusnahkan ikan invasif hasil penyerahan dari masyarakat. Saat ini, terdapat 78 ekor ikan berbahaya dan invasif yang sudah dimusnahkan oleh petugas BKIPM. Terdiri dari lima piranha, aligator dan arapaima. Pemusnahan dikerjakan bertahap sejak awal Agustus dan hingga Rabu (15/8/2018).

Pola pemusnahan ikan itu diharapkan menjadi edukasi bagi masyarakat. Agar masyarakat memahami jika ikan kategori itu dilarang memasuki perairan Indonesia lantaran membahayakan ekosistem laut yang dihuni ikan-ikan lokal. (*)

 

Comments are closed.