Pengembang Keluhkan Ketatnya Pengajuan KPR

 

– Properti Expo Semarang ke-7 yang berlangsung mulai 10-22 Desember 2020 hanya diikuti 4 pengembang perumahan saja, seiring lesunya transaksi akibat ketatnya pengajuan KPR. Foto : ist/metrosemarang.com

 

SEMARANG- Pengajuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang makin ketat oleh perbankan masih menjadi kendala para pengembang dalam menjual rumah. Padahal, selama ini 90% pembelian rumah konsumen dilakukan melalui KPR.

Ketua Panitia Properti Expo Semarang ke-7, Dibya K Hidayat mengatakan, sejak pandemi covid-19, perbankan sangat selektif untuk mengucurkan KPR. Ini tentunya membuat khawatir para pengembang lantaran penjualannya turun drastis.

“Ini saja yang ikut pameran cuma 4 pengembang saja. Mereka masih belum berani berspekulasi di tengah kondisi ekonomi seperti saat ini. Pameran ini sendiri akan berlangsung mulai tanggal 10-22 Desember 2020,” katanya disela Pembukaan PES ke-7, di Mall Ciputra, Kamis (10/12/2020).

Dijelaskan, sebelum terjadinya pandemi, penjualan rumah terus meningkat signifikan. Namun, untuk saat ini permintaan masih tinggi, hanya saja perbankan yang mengerem KPR.

“Setiap tahun permintaan rumah terus mengalami peningkatan signifikan. Namun akibat pandemi ini, pengembang masih menunggu kelonggaran perbankan dalam mengucurkan KPR,” jelasnya.

Menurutnya, para pengembang tetap berharap akhir tahun ini penjualan terus membaik, mengingat pameran sebelumnya, penjualan cukup bagus. Pameran yang diikuti BSB City, BSB Vilage, Eka Griya Lestari dan PT Kini Jaya diharapkan mampu mendongkrak penjualan rumah.

“Dimasa pandemi, penjualan rumah yang semula didominasi KPR, kini 50% sudah mulai melakukan pembayaran secara tunai, dengan harga yang lebih terjangkau,” ungkapnya.

Para pengembang, lanjutnya, dalam upaya meningkatkan penjualan rumah banyak memberikan diskon, dengan harapan rumah akan terjual. Selain diskon, tak sedikit pengembang menurunkan harga jual rumah, dengan harapan cepat terjual dan dapat mendapatkan uang tunai.

“Sampai saat realisasi KPR dari perbankan belum ada pergerakan yang signifikan, karena perbankan ingin mengurangi resiko NPL yang tinggi, akibat program restrukturisasi utang. Kalau KPR belum normal usaha pengembang untuk meningkatkan penjualan masih belum normal juga,” ujarnya.

Sementara itu, Nur Widi, Pengurus DPD REI Jateng Bidang Perbankan mengatakan, tahun ini pengembang banyak kesulitan dalam merealisasikan KPR. Guna membangkitkan perekonomian, unsur perbankan sangat penting. Namun kondisi pandemi ini membuat perbankan dihantui oleh NPL.

“Dalam pemulihan ekonomi ini ada tiga unsur yang harus perhatikan yakni pemerintah, perbankan dan dunia usaha,” terangnya.

Ditambahkan, sebenarnya penggerak dari perekonomian ini adalah properti karena jika properti bergerak ada 170 bisnis ikutannya juga akan bergerak.

“Sayangnya perbankan perbankan ini masih sulit sekali untuk menyetujui pengucuran KPR. Inilah yang menjadi kendala pengembang saat ini.kondisi ini tidak dialami oleh pengembang saja tetapi juga industri lainnya,” tambahnya.

Ini tentunya menjadi PR bagi REI, yang akan meminta perbankan untuk bisa memahami kondisi, sehingga pemulihan ekonomi nasional bisa segera diwujudkan.Sedangkan untuk permintaan rumah sudah mulai membaik. Ini dapat dilihat dari pameran yang kemarin dengan hasil penjualan yang bagus.(eff)

You might also like

Comments are closed.