Penggusuran Tak Terencana, Difteri Belum Sirna

Rusunawa Tak Siap

Proyek normalisasi Banjir Kanal Timur dinilai tak terencana. Orang-orang yang digusur berebut tempat tinggal di Rusunawa. Sementara, difteri masih belum sirna juga.

RENCANA pemerintah Kota Semarang untuk melaksanakan proyek normalisasi sungai banjir kanal timur terus berlanjut. Awal pekan ini, satu ekskavator didatangkan ke wilayah Bugangan dan Mlatiharjo untuk membongkar 50-an bangunan yang ada di bantaran sungai.

penggusuran BKT
Sebuah alat berat membuat hunian liar di bantaran BKT rata dengan tanah. Bahkan pohon randu yang berusia puluhan tahun juga ikut dirobohkan. Foto: mashrukin abduh

Dinas Perdagangan Kota Semarang menyebut telah memberi waktu kepada para pedagang yang ada di kawasan tersebut, untuk mengosongkan bangunan dan membongkarnya dalam kurun waktu 11 Juli hingga 23 Juli 2018. Hingga batas terakhir, dinas mendapati bangunan kosong namun tidak dibongkar. Bahkan ada warga yang masih bertahan.

Ternyata yang ada di bantaran itu tidak semua pedagang kaki lima (PKL). Ada warga yang bukan pedagang, menghuni bangunan-bangunan di sana. Terang saja mereka enggan membongkar bangunan, bahkan bertahan. Sebab, tempat relokasi untuk mereka belum seluruhnya siap.

Pemkot baru mengakomodasi PKL yang sudah digusur. Sedangkan untuk warga yang menempati hunian liar di bantaran BKT tidak memiliki kepastian atas jaminan rusunawa yang dijanjikan sebelumnya oleh pemerintah.

DPRD Kota Semarang menyebut pemerintah kurang persiapan dalam hal itu. Kendati dikritik, penggusuran terus berlangsung. Tak hanya hunian dan warung, pohon tua yang merintangi proyek normalisasi juga digusur. Pemerintah berdalih telah menyediakan tempat untuk relokasi PKL di Pasar Klithikan Penggaron, Pasar Banjardowo, Pasar Waru dan Pasar Dargo. Pemerintah juga mengaku telah menyiapkan rusunawa untuk warga yang huniannya tergusur.

Akan tetapi penempatan warga di rusunawa juga bermasalah. Seperti rusunawa Kudu yang disebut-sebut terlalu padat penghuni. Terjadi rebutan kamar antara penghuni lama dengan penghuni baru. Hal itu menyebabkan warga yang direlokasi enggan pindah ke sana dan bertahan di tempat semula, meski terancam digusur.

 

Imunisasi Serentak 

Sementara itu, kasus difteri di Kampung Dong Biru, Kelurahan Genuksari yang menjadi topik pemberitaan utama pekan lalu, masih terus ditanggulangi hingga pekan ini. Lurah Genuksari menggencarkan vaksinasi di seluruh RW 11, tempat dimana terdapat seorang anak terjangkit difteri hingga meninggal dunia.

Pekan ini, di Bangetayu masih ditemukan gadis kecil yang mengalami pembengkakan di leher akibat terserang difteri. Saat berkunjung ke Semarang, Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek menyebut otoritas setempat harus melakukan ORI atau outbreaks response immuniztion jika telah ada yang terjangkiti difteri.

ORI merupakan salah satu upaya penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) suatu penyakit dengan pemberian imunisasi. Strategi ini ditujukan untuk mencapai kekebalan individu dan komunitas hingga mencapai 90-95%, sehingga KLB suatu penyakit bisa diatasi. (Redaksi)

Comments are closed.