Penghasilan Pas-pasan, Perajin Rotan di Welahan Tunggu Bantuan Pemerintah

METROSEMARANG.COM – Perajin keterampilan rotan di Desa Teluk Wetan Kecamatan Welahan Kabupaten Jepara belum mampu berpangku tangan dari penghasilannya. Dari hasil menganyam, perajin yang rata-rata kaum perempuan hanya mendapatkan Rp15 ribu sampai Rp 30 ribu per harinya.

Perajin rotan di Welahan Jepara. Foto: metrojateng.com

Dari hasil kerjanya itu, jika dikalkulasi selama satu bulan, mereka hanya mendapatkan upah sekitar Rp 450 ribu sampai Rp 900 ribu. Jumlah tersebut memang jauh dari kebutuhan hidup yang harus mereka keluarkan.

Desa Teluk Wetan merupakan sentra kerajinan rotan. Di antaranya furnitur, perabot rumah tangga, hiasan dan parsel. Mayoritas kaum ibu bekerja sebagai perajin keterampilan parsel.

Sarinah, misalnya, perempuan berusia 35 tahun ini harus menghidupi anak dan kedua orangtuanya yang sudah berusia kepala tujuh. Di rumah berukuran 5 meter persegi, ia bekerja sebagai buruh kerajinan parsel.

“Saya bekerja sebisa saya, karena masih harus ngurus anak yang masih berusia 18 bulan. Ya, dari buruh membuat parsel dapat mengumpulkan uang Rp 15 ribu per hari,” katanya di rumahnya.

Hasilnya yang pas-pasan itu, ia terpaksa harus berhutang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bahkan, rumahnya pernah roboh diterjang angin. Akhirnya, warga sekitar bergotong-royong membantunya.

“Ya, tiap bulan pasti hutang untuk makan. Kondisi rumah seperti ini, karena buat makan saja kurang. Ini sudah direnovasi seadanya dari hasil iuran warga sekitar,” lanjutnya.

Ayahnya, Joyo (60) tidak bisa beraktivitas normal karena kakinya sakit akibat kecelakaan. Sedangkan ibunya, Marsiyah (60) mengalami gangguan pendengaran.

“Bapak dulunya tukang becak, tapi pernah kecelakaan dan sampai sekarang tidak lagi bekerja. Sudah empat tahun ini tidak kerja. Kalau suami saya kerja di Kalimantan, kirim uangnya tidak pasti,” paparnya.

Perajin lain, Sutimah (50) hanya mampu mengumpulkan uang rata-rata Rp 700 ribu per bulan. Padahal, ia harus merawat suaminya, Sarmani yang sudah tidak bisa bekerja.

“Buat parsel. Tiap harinya dapat Rp 20 ribu sampai Rp 25 ribu. Itu kalau stok rotannya ada,” katanya.

Menurutnya, hampir semua anggota keluarganya bekerja menjadi perajin rotan atau parsel.

“Di rumah yang sempit ini saya dan suami masih tinggal bersama tiga anak saya. Malahan, ruang sempit diberi atap dan ditempati anak saya yang satunya. Hanya berukuran lebar kurang dari dua meter. Dia juga buruh buat parsel,” ucapnya.

Sementara, Kapolsek Welahan AKP Rismanto yang berkesempatan menyalurkan bantuan mengatakan bahwa pihaknya akan berkoordinasi dengan pemerintah desa dan kecamatan untuk mencarikan solusi.

“Kalau lapangan pekerjaan memang sudah ada. Tapi masih belum bisa sepenuhnya mensejahterakan. Ini coba akan saya koordinasikan, cari kendalanya serta solusi,” tutur dia.

Ditambahkannya, untuk mengentaskan kemiskinan memang perlu adanya sinergitas antara pemerintah dengan pengusaha lokal.

“Kami harap ada saling bersinergi untuk mengentaskan kemiskinan. Setidaknya hal itu dapat mengurangi angka kriminalitas,” terangnya.

Camat Welahan, Nuryanto menuturkan bahwa pihaknya akan segera berkoordinasi dengan sejumlah pihak. “Saya akan segera dorong pemerintah desa untuk memikirkan solusi,” tandasnya. (metrojateng.com/MJ-23)

You might also like

Comments are closed.