Penjara di Jateng Semakin Disesaki Ribuan Narapidana

METROSEMARANG.COM – Tingkat hunian sel tahanan di Jawa Tengah kini sudah mencapai kisaran 13 persen-15 persen. Walau begitu, menurut Kepala Kanwil Kemenkumham Jateng, Bambang Sumardiono, kelebihan kapasitas sel tahanan yang ada saat ini masih cenderung rendah apabila dibanding provinsi lainnya di Indonesia.

Peringatan Natal di Lapas Kedungpane, Minggu (25/12/2016). Kapasitas lapas ini sudah overload 100 persen. Foto: metrosemarang.com/dok

Ia menyatakan sel tahanan yang paling overload justru berada di Rutan Solo serta Lapas Kelas I A Kedungpane, Semarang.

Di Rutan Solo, lanjutnya, jumlah warga binaan telah menembus angka 600 jiwa. Rinciannya 300 narapidana dan 300 tahanan. “Jumlah warga binaan itu melebihi kapasitas Rutan Solo sekitar 30 persen,” cetusnya, Sabtu (13/5).

Tak cuma itu saja, katanya. Lapas Kelas I A Kedungpane juga overload. Kini narapidananya mencapai 1.400 jiwa. Padahal, kapasitasnya tiap sel hanya 663 orang. “Sudah over 100 persen,” kata Bambang.

Dari 44 rutan dan lapas di wilayahnya kini menampung 11.354 warga binaan. Guna mengatasi kondisi tersebut, ia menegaskan dalam waktu dekat bakal melakukan redistribusi tahanan.

Para tahanan yang sisa hukumannya kurang dua tahun akan dipindah ke rumah tahanan daerah lain yang masih longgar.

“Selain memindahkan tahanan, kami juga mendorong warga binaan untuk mengajukan grasi. Semuanya tidak peduli kasusnya apa. Sekarang, kebijakan itu sedang digodog oleh Kemenkumham,” tuturnya.

Bambang berharap dengan metode itu, permasalahan overkapasitas yang dialami sejumlah rutan dan LP di Jateng dapat teratasi.

Kepala Divisi Pemasyarakatan (Kadivpas) Kemekumham Jateng sekaligus Ketua Tim UPP Jateng, Djoni Priyatno menambahkan pihaknya telah membentuk Unit Pemberantasan Pungli [UPP] guna mencegah adanya praktik pungutan liar di dalam penjara.

“Tindakan itu yang membuat warga binaan kurang nyaman hingga menyebabkan kekacauan,” imbuhnya. (far)

You might also like

Comments are closed.