Pentingnya Alat Bukti Elektronik dalam Pengungkapan Kasus Terorisme

terorisme jateng
Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi (Wakajati) Jateng Priyanto saat menjadi pembicara Workshop on Using Electronic Evidence in Terorism and Transnational Crime Cases. (Foto: istimewa)
METROSEMARANG – Alat bukti elektronik dipandang sebagai hal serius oleh Kejaksaan Agung RI dalam penyelidikan kasus terorisme. Hal ini menjadi perhatian lantaran para pelaku terorisme biasa menggunakan media elektronik sebagai alat komunikasi.
Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi (Wakajati) Jateng Priyanto mengatakan, penggunaan media elektronik menjadi lebih susah untuk ditelusuri. Mereka biasa menggunakan email atau grup chatting untuk berkomunikasi. Serta melakukan propaganda melalui bulletin board atau mailing list.
“Terorisme merupakan kejahatan yang bersifat internasional yang menimbulkan bahaya terhadap keamanan, perdamaian dunia serta merugikan kesejahteraan masyarakat. Sehingga perlu diberantas secara berencana dan bersama-sama,” katanya dalam Workshop on Using Electronic Evidence in Terorism and Transnational Crime Cases, Kamis (12/4).
Workshop ini bertujuan untuk menyamakan persepsi antara penegak hukum, khususnya Jaksa dalam menggunakan alat bukti elektronik dan bagaimana bekerja sama antar kejaksaan di ASEAN. Diharapkan workshop ini menjadi wadah bagi penegak hukum di negara-negara ASEAN untuk memberikan rekomendasi strategi dalam penggunaan alat bukti elektronik pada perkara terorisme.
Penggunaan alat bukti media elektronik sudah pernah dibuktikan eksistensinya dalam putusan Nomor 148/pid.B/2011/PN.jkt.sel dengan terdakwa Abu Bakar bin Abud Baasyir alias Abu Bakar Baasyir yang menggunakan video teleconfrence dalam pemeriksaan saksi di sidang. Saat itu, jaksa memeriksa empat saksi dalam sidang, namun dipilih teknologi video teleconfrence dengan alasan keamanan. (ade)

Comments are closed.