Perawat Rumah Kenangan di Kampung Sekayu

Jelajah Kampung Semarang

Rumah-rumah lawas itu menyita perhatian kami. Tidak hanya rumah bercat biru yang sedang direnovasi. Sebelumnya, kami juga menjumpai rumah bergaya sama. Ada yang masih ditinggali si pemilik, ada yang mangkrak tak terurus.

Rumah bergaya lawas di kampung sekayu Semarang (foto: metrosemarang.com/ Anggun)

PUSAT Kota Semarang kini bak rimba dari gedung-gedung bertingkat. Setiap waktu pusat perbelanjaan, hotel, dan apartemen tumbuh memadati sudut kota. Kondisi itu sangat kontras dengan kehidupan sebagian warga yang masih menjaga cerita dan kenangan dari tempat tinggalnya. Seperti penghuni rumah-rumah lawas di Kampung Sekayu Semarang Tengah.

Minggu pagi banyak aktivitas yang bisa dilakukan masyarakat Semarang. Bisa datang ke car free day, olahraga di Stadion Tri Lomba Juang, kerja bakti di lingkungan tempat tinggal, atau sekadar memilih bangun siang.

Pagi itu saya memilih untuk mengikuti walking tour bersama Bersukaria dengan rute Kampung Kota. Kegiatan ini menjadi gaya hidup baru yang menarik dan sayang untuk dilewatkan. Kenapa? Karena kita jadi makin mengenal Kota Semarang tercinta dari berbagai sudut, kampung ke kampung, hingga jalan tikus.

Sepeda motor saya parkir di seberang Mall Paragon di Jalan Pemuda. Melihat sekeliling area parkir yang dikelola oleh swasta itu saya jadi terkenang. Dulu tempat itu pernah berdiri Semarang Theater. Saya pernah merasakan nonton bioskop disana bersama Papa, Mama, dan Adik di era layar lebar dengan lakon ‘’Kanan Kiri Oke’’ yang dibintangi Doyok dan Kadir atau ‘’Warkop DKI’’. Bukan berbekal brondong, tapi cukup membawa kacang rebus atau kacang sangan Bedagan yang hits pada masa itu dan meneguk teh botol.

Seperti kenangan di benak saya, tentu setiap orang juga punya cerita dan kenangan pada tempat tinggalnya. Bahkan, tidak hanya sekadar disimpan dalam angan, tapi juga dirawat dan dipertahankan.

Bertegur Sapa

Dalam perjalanan kami menyusuri Kampung Sekayu, seketika langkah kami terhenti di depan rumah kuno dengan dinding papan bercat biru. Catnya masih baru, didepannya tampak gundukan adukan semen dan pasir yang juga masih basah. Sepertinya rumah bergaya limasan itu memang sedang direnovasi pemiliknya.

Rumah Limasan adalah rumah tradisional masyarakat Jawa atau daerah lain di Indonesia yang terdiri atas 8 tiang utama (wikipedia)

Saat pemandu tur atau story teller Bersukaria bercerita tentang rumah-rumah lawas yang masih bertahan di kampung yang terdesak mall itu, sejumlah warga yang sedang beristirahat dari kerja bakti menyapa kami.

‘’Ini ada acara apa to? Kok rame-rame, motret-motret? Kemarin juga ada orang Belanda kesini motret rumah di daerah sini,’’ tutur seorang bapak bersuara parau.

‘’Ini lagi jalan-jalan bareng pak, lihat-lihat Kampung Sekayu,’’ ungkap Dimas, Story Teller Bersukaria.

‘’Sini, duduk dulu, monggo ini ada air boleh diambil lho,’’ kata bapak-bapak lainnya yang sedang berteduh di teras sebuah rumah.

Rumah-rumah lawas itu menyita perhatian kami. Tidak hanya rumah bercat biru yang sedang direnovasi. Sebelumnya, kami juga menjumpai rumah bergaya sama. Ada yang masih ditinggali si pemilik, ada yang mangkrak tak terurus. Pemandangan itu tampak kontras karena berdampingan dengan gedung-gedung bertingkat yang berdiri kokoh di sekitar lingkungan tersebut.

Cerita si Pemilik Rumah

Pak Joko adalah pemilik rumah bercat biru yang sedang direnovasi itu. Dia tetap mempertahankan keaslian bentuk rumah tersebut. Dindingnya masih dari papan kayu jati, ventilasi udara diatas pintu yang berbentuk seperti anak panah yang menjuru ke segala arah angin sebagai ciri khas Tumenggungan juga masih ada. Selain mengecat ulang dia juga menaikkan posisi rumah agar tidak terkena banjir.

Perlu usaha untuk menaikkan rumah itu agar terhindar dari banjir. Dari kesaksian Pak Toyo, warga Sekayu yang waktu itu juga ada saat kami singgah, butuh teknik tersendiri untuk merenovasi rumah kuno.

‘’Paling tidak ada empat orang yang mengerjakan dan dengan alat bantu dongkrak untuk menaikkan. Kemudian, papan-papan dilepas dulu, lalu rangka perlahan-lahan dialasi bambu baru didongkrak. Kalau papan tidak dilepas, khawatir pecah karena kayu sudah terlalu kering dan tua,’’ jelasnya.

Rumah Pak Joko di Jalan Sekayu Semarang (foto: metrosemarang.com/Anggun)

Menurut cerita Pak Joko, usia rumah tersebut lebih tua dari usianya. ‘’Ya jelas sudah tua, wong rumah ini sudah ada sejak zaman si mbah saya. Kemudian, ditinggali orangtua saya, lalu ini dibangun untuk nanti saya tinggali sendiri,’’ tutur lelaki berusia 56 tahun itu.

Rumah di Jalan Sekayu Tumenggungan itu menjadi saksi tiga generasi keluarga Pak Joko yang pernah tinggal disana. Dia masih menyimpan kenangan masa kecil selama tinggal di rumah dengan pintu bergaya kupu tarung itu.

‘’Ya, meskipun saya sudah punya rumah sendiri di Jalan Sekayu Keramat Jati, rumah ini tetap saya pertahankan. Sebab, banyak kenangan disini,’’ katanya.

Niatnya mempertahankan kenangan tempat bertumbuh dan tinggal itu juga dilakukan oleh warga lainnya. Pak Bekti juga warga yang tetap ingin bertahan dan tinggal di Kampung Sekayu. Ya, meskipun berkali-kali dia dirayu oleh orang kaya yang punya mall dan hotel untuk menjual rumahnya.

‘’Lha saya lahir disini, ari-ari saya juga ditanam disini. Jadi saya ya nggak mau pindah. Pokoknya, walau mau dipaksa atau digusur, rumah tetap saya tinggali,’’ tutur lelaki berusia 68 tahun itu.

Perjuangan Bekti tetap tinggal di Kampung Sekayu tidak semata ingin mempertahankan rumahnya, tapi juga sejarah yang ada di kampung tersebut.

Konon Kampung Sekayu dulu pernah menjadi pusat pemerintahan Kota Semarang. Sehingga tidak heran, nama gang-gang di kampung itu menggunakan istilah perangkat pemerintahan pada masa lalu seperti Kepatihan dan Tumenggungan.

Nama Sekayu pun diambil dari perkayuan, karena Sunan Kalijaga saat ingin membangun Masjid Agung Demak pernah menitipkan kayu di kampung itu. Bahkan, disana juga berdiri masjid tertua di Pulau Jawa yang kini bernama Masjid At Taqwa.

‘’Kampung Sekayu ini kampung wali, kalau semua dibeli sama yang punya uang ya sudah nggak ada cerita lagi dari kampung ini. Sebab karena dibangun mall, penduduk satu RT di Kampung Sekayu tidak tinggal lagi disini,’’ kata Bekti.

Selesai bercerita kami pun melanjutkan perjalanan menyusuri jalan-jalan kampung di sekitar Jalan Pemuda, Pekunden, Thamrin, hingga Depok. Masih kami jumpai kehangatan dari kehidupan para penghuninya seperti matahari pagi itu. Kampung kota masih ada dan berdiri menjadi saksi perubahan zaman yang kini semakin modern juga metropolis.

Penulis: Anggun Puspita
Editor : Fitria Eka
You might also like

Comments are closed.