Perceraian di Semarang Didominasi Gugatan Istri

M Sukri Foto: metrosemarang.com/khoiruddin muhammad
M Sukri
Foto: metrosemarang.com/khoiruddin muhammad

METROSEMARANG.COM – Angka perceraian di Kota Semarang masih tergolong cukup tinggi. Sebagian besar kasus-kasus tersebut didominasi gugatan dari pihak istri.

Data dari Pengadilan Agama (PA) kelas 1-A Semarang sepanjang tahun 2015 menunjukkan sebanyak 3.119 kasus perceraian telah diputuskan dalam sidang. Pada tahun yang sama, perceraian masih didominasi oleh pihak istri yang melakukan gugatan kepada suami dengan berbagai alasan perkara.

Dari data tersebut, sebanyak 2.197 istri melakukan gugatan cerai, sedangkan 922 suami melakukan talak secara hukum melalui persidangan di pengadilan. “Ada peningkatan sedikit saja dibanding tahun sebelumnya, artinya tidak terlalu banyak,” kata Bagian Hubungan Masyarakat (Humas) Pengadilan Agama kelas 1-A Semarang, M Sukri, saat ditemui kantornya, Jalan Urip Sumoharjo No 5 Semarang, Selasa (27/1).

Sukri menambahkan, sebagian besar perceraian dipicu oleh beberapa persoalan rumah tangga yang tak kunjung terselesaikan oleh masing-masing pasangan. Mulai dari faktor kurangnya tanggung jawab lelaki untuk memberi nafkah, kesenjangan pendapatan istri lebih besar, hingga adanya pihak ketiga dalam kehidupan rumah tangga.

Berbagai permasalahan tersebut, lanjutnya, bisa memicu terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). “KDRT merupakan puncak dari pertikaian,” sambung Sukri.

Sukri menerangkan, PA dalam setiap persidangan jika kedua belah pihak hadir, selalu memberikan mediasi agar perkara bisa terselesaikan tanpa adanya perceraian. Hal itu sesuai dengan peraturan menteri (Permen) No 1 Tahun 2008 tentang mediasi suami istri yang akan bercerai.

Namun, Sukri mengaku tak banyak yang berhasil didamaikan dalam proses mediasi tersebut. “Kalau KDRT biasanya dia akan melampirkan bukti lampiran kekerasan dari kepolisian, sama-sama punya keinginan keras untuk bercerai” terangnya.

Dari data sepanjang tahun 2015, perceraian tertinggi terjadi pada bulan Agustus, dengan dominasi gugatan istri sebanyak 235, dan talak oleh suami sebanyak 95. “Pernikahan dini juga menjadi salah satu faktor rentan untuk bercerai,” tandasnya. (CR-08)

You might also like

Comments are closed.