Peringati Hari Lahan Basah, Bocah-bocah SD Tanam Mangrove di Bibir Pantai Semarang

METROSEMARANG.COM – Untuk menyemarakkan peringatan Hari Lahan Basah, puluhan mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) secara serentak menanam mangrove di Kampung Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Semarang. Gerakan menanam mangrove itu dilakukan tiga kelompok mahasiswa di sejumlah spot lahan bakau yang masih rusak di kampung tersebut.

Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Pantauan metrosemarang.com terdapat tiga kelompok mahasiswa Undip dari fakultas yang berbeda pada hari ini, Minggu (30/4), menggalakkan penanaman bibit mangrove. Di dekat Masjid Al Hidayah, Mangunharjo, setidaknya 60 mahasiswa Ilmu Kelautan dan Perikanan giat memperbaiki lahan bakau yang rusak parah.

“Kita sedang menanam mangrove seluas 50 meter di sepanjang tepi jalan setapak Mangunharjo. Sebab, kondisinya sekarang kian parah. Baru ditanami seminggu sudah rusak parah dimakan kambing yang jadi hama bagi mangrove,” ungkap Azim Hilmi, Ketua Kelompok Studi Ekosistem Mangrove Teluk Awur (KeSEMaT), Ilmu Kelautan Undip kepada metrosemarang.com.

Azim bilang hari ini adalah waktu yang tepat untuk memperbaiki lahan bakau yang rusak. Selain untuk memperingati Hari Lahan Basah. Ia juga ingin mengingatkan kepada rekan-rekannya bahwa di bulan yang sama juga terdapat peringatan Hari Sampah dan Hari Air Sedunia.

Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Aksi yang mengusung tema ‘Mangrove Karnival’ ini juga mengajak belasan anak SD Negeri Tugu dan tokoh masyarakat sekitar untuk menanam mangrove.

Noval Hamdan, siswa SD Negeri Tugu mengaku senang dilibatkan dalam acara tersebut. Ia pun tak segan nyemplung di lahan penuh lumpur demi menanam mangrove. “Senang, seru karena banyak temannya. Lagian ini kan hari Minggu. Sekalian main sama teman-teman saja,” kata Noval.

Lebih jauh lagi, Azim menuturkan gerakan menanam mangrove juga untuk melestarikan ekosistem pesisir pantai sekaligus menangkal dampak abrasi.

Ia berharap bibit mangrove kembali tumbuh subur sehingga mampu mengatasi abrasi yang selama ini mengancam kelangsungan hidup warga Mangunharjo yang selama ini mendiami bibir pantai Semarang.

Ia mengungkapkan berdasarkan studi yang dilakukan kampusnya, hampir 70 persen dataran Semarang sudah terkena dampak abrasi. Akibatnya, lanjut Azim banyak kampung di Kaligawe dan lokasi lainnya kerap kebanjiran.

Agar kondisinya tak terulang di Mangunharjo, ia kali ini menanam mangrove mayor. “Di sini enggak ada mangrove jenis mayor. Semuanya tinggal jenis asosiasi saja. Sehingga bahaya kalau abrasinya semakin besar,” cetusnya.

Ia menganggap saat ini mangrove jadi opsi paling bagus. Ke depan, ia berjanji akan menggalakan aksi serupa di spot-spot lainnya.

Ali Imron, tokoh masyarakat di RT 01/RW I Mangunharjo mengaku terbantu dengan adanya penanaman mangrove di kampungnya. “Di Mangunharjo sudah terbentang 3.000 hektar mangrove yang rutin ditanami oleh warga maupun aktivis lingkungan,” tandasnya. (far)

You might also like

Comments are closed.