Perjuangan Guru SD Gunung Brintik Mengajar di Tengah Kuburan

SILVESTER Sunaryo baru saja selesai mengawasi proses tes tengah semester di Ruang Kelas V saat metrosemarang.com menyambangi SD Servatius Pangudi Luhur Gunung Brintik, pada Rabu pagi (13/12). Berulang kali ia menghela napas dalam-dalam.

Sunaryo lega karena tahapan tes tengah semester di sekolahnya baru saja rampung. “Biar tidak telat ikut tes, saya harus mendatangi rumah beberapa murid. Syukurlah tahapan tes di sini berlangsung lancar,” kata Sunaryo.

Ia mengatakan mayoritas murid-muridnya yang tinggal di Kampung Gunung Brintik menjadi tantangan tersendiri baginya saat mengajar di kelas.

Ia mengaku harus menanamkan nilai-nilai kedisiplinan yang tinggi terhadap muridnya. Ia memberikan aturan tegas agar muridnya masuk kelas tepat pukul 07.00 WIB.

“Tapi karena kondisi lingkungannya yang buruk, tak jarang ada murid yang telat. Ya mau gimana lagi, lha wong orang tuanya banyak jadi pemandu karaoke dan pemulung, tentu ini berdampak terhadap psikologis anaknya. Mereka mau sekolah saja itu sebuah penghargaan luar biasa buat kita,” kata Sunaryo.

Tantangan terberat yang harus ia hadapi ialah memperbaiki sikap kesopanan dari para muridnya. Ia harus menahan kesabaran tatkala muridnya berbicara kasar di kelas. Dengan lingkungan yang buruk ditambah pergaulan muridnya yang kerap dihabiskan di jalanan, ia mengaku maklum dengan kondisi tersebut.

“Bahasanya mereka kayak anak jalanan, sering ngomong kasar sama guru-gurunya. Makanya, kita terus menanamkan hal-hal yang baik dan mengajarkan mereka bersikap sopan supaya jadi orang baik ketika dewasa nanti,” akunya.

Proses belajar-mengajar di SD PL Brintik juga tak selalu berjalan mulus. Sebab, murid-muridnya kerap membolos hingga berhari-hari. “Yang bolos empat hari ada, yang bolos sampai setahun juga banyak. Mereka biasanya ikut-ikutan menggelandang di jalan raya sama teman-temannya,”.

Alhasil, saat proses pendaftaran siswa baru, pihaknya kerap mendapati si anak tersebut kembali mendaftar untuk kelas 1. Hal ini memberikan kesan berbeda dibanding sekolahan lainnya karena banyak muridnya yang berusia hingga 15 tahun yang masih tinggal kelas. (far)

You might also like

Comments are closed.