Pertama Menggagas Trans Studio, Soemarmo Tolak Pembangunan di TBRS

Soemarmo HS Foto: metrosemarang.com/achmad nurseha
Soemarmo HS
Foto: metrosemarang.com/achmad nurseha

SEMARANG –Mendengar isu bahwa Trans Studio akan dibangun di Taman Raden Saleh, Jalan Sriwijaya, Semarang, Soemarmo langsung menentang tegas. Keberadaan Trans Studio di tengah kota, dinilai hanya akan menambah masalah baru.

“Saya orang pertama yang akan menolak pembangunan Trans Studio di sana (TBRS-red),” kata dia ketika ditemui metrosemarang.com di kediamannya belum lama ini.

Menurutnya, alangkah lebih baiknya jika daerah terebut tetap berfungsi sebagai lahan hijau. Sedangkan Wonderia rencananya akan dibuatkan taman kota dimana masyarakat bisa menggunakannya secara bebas.

Tidak terbayangkan olehnya betapa akan macetnya daerah kota jika penduduk kota tetangga ketika mendatangi Trans Studio jika dibangun di Jalan Sriwijaya. “Ribuan kendaraan akan menumpuk di tengah kota. Pasti akan macet walaupun selebar apapun jalannnya,” katanya.

Trans Studio sebenarnya sudah mulai digagas saat Soemarmo menjabat sebagai Wali Kota Semarang di 2010 silam. Kala itu Hendrar Prihadi duduk sebagai Wakil Wali Kota. “Saya yang bertemu Chairul Tanjung, namun akhirnya memutuskan ke Taman Sriwedari, Solo tapi kemudian gagal,” terang Soemarmo.

Dia menjelaskan, dulunya dia akan membangun Trans Studio di daerah Mijen sehingga akan berdekatan dengan Waduk Jatibarang. Pasar Burung Karimata yang berada di Jalan Kartini pun sebenarnya akan dia pindah ke Mijen. “Pasti ramai, penghobi dan pelancong akan meramaikan daerah tersebut,” tegasnya. (ade)

You might also like

Comments are closed.