Perusakan Social Kicthen, 10 Anggota LUIS Dibebaskan Pengadilan

METROSEMARANG.COM – Sebanyak 10 anggota Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) divonis bebas oleh pihak Pengadilan Negeri (PN) Semarang atas kasus dugaan perusakan Social Kicthen Resto yang terjadi di Sumber, Solo.

Terdakwa perusakan Social Kitchen divonis bebas oleh Pengadilan Negeri Semarang, Rabu (31/5). Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Dalam sidang vonis kasus tersebut, dua majelis hakim masing-masing Puji Widodo dan Pujo Unggul bergantian membacakan putusan bagi para terdakwa.

Total ada 12 terdakwa mula-mula dihadirkan bergiliran. Dari jumlah tersebut, dua orang di antaranya atas nama Yudi Wibowo dan Mardiyanto diputuskan bersalah oleh pengadilan. Alasannya karena keduanya terlibat pencurian saat sweeping berlangsung.

Namun, dalam sidang yang menghadirkan 10 terdakwa lainnya, majelis hakim memilih membebaskan semua dakwaan kepada yang bersangkutan.

“Membebaskan terdakwa dari tahanan atas semua tuduhan terdebut. Membebaskan terdakwa dari semua barang bukti berupa sepeda motor, satu lembar STNK, handphone, satu celana kain, satu asbak serta membebankan biaya perkara kepada negara,” ungkap Ketua Majelis Hakim PN Semarang, Puji Widodo di muka sidang, Rabu siang (31/5).

Ditambahkan pula bahwa para terdakwa ditahan aparat kepolisian sejak 27 Desember sampai sekarang didampingi kuasa hukum Annis Pujo Anshori. Atas putusan tersebut, para terdakwa langsung memekikan takbir seraya saling berpelukan.

Ada sosok Ranu Tri Sasongko, seorang jurnalis pro LUIS yang ikut divonis bebas. Pihak keluarga tak kuasa menahan tangis saat mendengarkan vonis bebas tersebut. Beberapa terdakwa bahkan sujud syukur atas pembebasannya dari kasus perusakan Social Kicthen.

Ranu Tri Sasongko, seorang terdakwa mengaku sangat bersyukur setelah dibebaskan oleh pengadilan. Ia menyebut ini adalah berkah Allah SWT di Bulan Ramadan. Sehingga Allah memberikan rahmat dan hidayahnya di muka sidang.

“Karena saya optimistis sebagai jurnalis tidak melakukan pelanggaran dan perusakan bangunan,” cetusnya.

Ia pun meminta aparat kepolisian mengembalikam kamera dan laptop miliknya yang disita sebagai barang bukti. “Saya ditahan Polda Jateng tiga bulan dan dua bulan di Lapas Kelas IA Kedungpane. Selama ini perlakuan lapas sangat bagi terhadap saya. Saya sempat jadi imam salat, mengajar mengaji dan berdakwah,” bebernya.

Sedangkan kuasa hukum LUIS Anis Pujo Anshori menuturkan masih ada satu ganjalan yang perlu ditelusuri lebih jauh. Yakni terkait dua sosok pria berhelm dan berpakaian hitam yang disinyalir sebagai dalang perusak Social Kicthen. Identitas dua pria itu kini masih misterius.

Pihaknya juga akan berkonsultasi terlebih dahulu dengan para terdakwa untuk meminta pengembalian beberapa barang bukti.

“Bahkan ada kamera yang disita kondisinya sudah pecah dan rusak. Ini yang akan kita konsultasikan ke terdakwa apakah akan menggugat pengadilan atau tidak,” jelasnya. (far)

You might also like

Comments are closed.