Petis Bumbon, Legenda yang Jadi Buruan Kala Ramadan

RAMADAN di Kota Semarang kurang afdol jika saat berbuka puasa tidak merasakan kuliner khas daerah tersebut. Memiliki penduduk dari berbagai etnis membuat Semarang kaya dengan kuliner bercita rasa dan melegenda.

Sayang, sekarang ini mencari kuliner warisan tersebut tidak mudah. Banyak faktor antara lain, karena yang membuat tidak mewariskan ke keturunannya atau kuliner tersebut akhirnya punah karena kalah dengan kuliner kekinian.

petis bumbon semarang
Pedagang kuliner Ramadan memadati Halaman Masjid Agung Semarang setiap sore jelang berbuka puasa. (foto: metrosemarang/Anggun Puspita)

Namun, jika ada yang rindu dengan kuliner-kuliner legenda yang mampu mengingatkan kenangan masa lalu atau ingin bernostalgia dengan cita rasa yang pernah singgah, pada setiap ramadan merapatlah ke Masjid Agung Kota Semarang di alun-alun lama Pasar Johar kawasan Kauman. Di luar halaman masjid setiap sore jelang berbuka puasa berjejer tenda-tenda yang menawarkan berbagai kuliner dan jajanan khas Semarang.

Tidak melulu lumpia dan bandeng presto yang sudah tenar lebih dahulu, tapi para penjaja dan penjual yang mayoritas warga asli Semarang itu menawarkan kuliner yang di telinga terdengar asing.

Sebut saja Petis Bumbon, olahan menu lauk yang mirip dengan sambal goreng ini laris manis diserbu pembeli yang berburu makanan untuk berbuka puasa. Petis Bumbon terdiri atas telur bebek yang dimasak dengan udang dan cabai merah. Adapun, yang membedakan dengan sambel goreng adalah penambahan petis ikan banyar dan bumbu rempah seperti temu kunci dan kencur yang membuat rasa kuliner ini makin kaya dan khas pesisir Jawa.

petis bumbon
Petis Bumbon kuliner legendaris khas Semarang yang dijajakan saat Ramadan di halaman Masjid Agung Semarang. (foto: metrosemarang/Anggun Puspita)

Salah satu penjual yang menawarkan kuliner Petis Bumbon ini adalah Sokhanah (65). Warga asli Semarang yang bermukim di Kampung Bustaman ini setia menjual kuliner legenda itu sejak 40 tahun lalu.

”Ini makanan khas Semarang, resepnya dari simbah saya dan dijual saat perayaan dugderan dan ramadan,” tuturnya saat ditemui di tenda makanan ”Bu Siti”.

Setiap dugderan dan Ramadan, kakak beradik Sokhanah dan Siti menjual Petis Bumbon berpindah-pindah. ”Dulu di depan bioskop Rahayu, terus jualan muter, sempat di kawasan Kota Lama, dan 10 tahun belakang hingga sekarang berjualan di depan Masjid Agung Semarang,” katanya.

kuliner masjid agung
Penjual Petis Bumbon melayani pembeli di area pasar kuliner Ramadan di halaman Masjid Agung Semarang. (foto; metrosemarang/Anggun Puspita)

Selain Petis Bumbon, ada juga jajanan yang dijual di pusat kuliner ramadan tersebut, yakni Coro Santan. Panganan ini terdengar asing, tapi memang sempat menjadi primadona pada zamannya. Mengadopsi dari panganan Arab, kue serabi berbentuk bulat ini dinikmati dengan cara dicocol santan kental.

”Coro Santan ini juga hanya ‘keluar’ saat ramadan. Coro atau serabi ini terbuat dari tepung terigu dan tepung beras kemudian dicampur dengan gula jawa untuk menambahkan rasa manis serta vanili. Jajanan ini cocok dijadikan takjil,” tutur penjual Coro Santan, Sujinah (43).

Disamping dua kuliner tersebut, masih banyak masakan dan jajanan yang dijual di area tersebut seperti, Buntil Daun Lumbu, Pis Kopyor, Nasi Kebuli, Ketan Biru, dan lainnya. Tidak hanya masyarakat sekitar yang berbondong-bondong berburu kuliner tersebut. Warga dari luar kota seperti dari Kudus, Jepara, Pekalongan yang singgah di Masjid Agung Semarang juga turut mencicipi kuliner legenda Semarang itu.

Salah satu jamaah masjid dari Kudus, Rusli menuturkan, sudah menjadi agenda untuk mampir ke pusat kuliner ramadan di depan Masjid Agung Semarang untuk mencicipi makanan yang dijual disana.

”Rasanya masih cocok di lidah dan bikin kangen, sehingga setiap ramadan selalu saya sempatkan datang ke sini,” katanya. (Anggun Puspita)

You might also like

Comments are closed.