Polda Jateng Grebeg Pesta Seks Sesama Jenis Berkedok Panti Pijat

Gelar perkara – Direskrimum Polda Jateng Kombes Djuhandani Rahaedjo Puro pada gelar kasus dengan pesta seks sesama jenus dengan 7 tersangka.Foto : ist/metrosemarang.com

 

SEMARANG, METROSEMARANG.COM – Polda Jateng menggrebek panti pijat plus plus sesama jenis dengan mengamankan tujuh orang tersangka, termasuk seorang mucikari . Mereka digrebek di Jalan Pamugaran Utara, Nusukan, Banjarsari, Surakarta disertai barang bukti diantaranya kondom bekas, handbody, minyak zaitun, uang Rp 300 ribu, HP dan obat perangsang 

Para tersangka langsung diboyong ke Semarang dan hingga Senin(27/9,2021) meringkuk di sel Polda Jateng. Mereka Deriyanto (47), sebagai mucikari warga Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar. Kemudian, enam juri pijat/terapis Has (41) asal Bugangan Semarang, Sur (29) asal Kampar Riau, Fit (32) warga Bawen, Agus (39) dan DRH (29) keduanya asal Cianjur Jabar dan Her alias Kevin (30) alamat Bojong Warung Bandung.

Direskrimum Polda Jateng Kombes Djuhandani Rahaedjo Puro pada gelar kasus dengan mendatangkan para tersangka , Senin(27/9) menjelaskan terungkapnya pijat plus plus sesama jenis di Surakarta bermula dari informasi masyarakat.

Djuhandani yang didampingi Kabid Humas Kombes Pol Iqbal dan Kasubdit IV AKBP Narno menyebutkan dari informasi itu, lalu ditindaklanjuti dengan penggrebekan di rumah kos kawasan Banjarsari, Surakarta. Sehingga ditangkap para gay terdiri germo serta enam terapis pria lainnya saat sedang melakukan praktek seks sesama jenis.

“Jadi, para terapis dan kordinator ini kita gerebek saat sedang melakukan seks sesama jenis di kamar” jelasnya.

Diamankan- Tujuh tersangka pesta seks sesama jenis kini ditahan di Polda Jateng. Foto : ist/metrosemarang.com

Dir Reskrimum mengatakan praktek prostitusi sesama jenis ini sudah berlangsung lima tahun. Penawaran melalui aplikasi medsos/twiter, Instagram, Facebook, hornet, grower, locanto. Tarifnya antara Rp 200 ribu – Rp450 ribu sekali bermain sedangkan jika dibutuhkan panggilan ada tarifnya sendiri. Sang germo setiap ada pelanggan mendapat bagian Rp 100 ribu dan Rp 150 ribu untuk setiap anak buahnya itu mendapat pelayanan panggilang.

Akibat ulahnya mereka  dijerat pasal 2 UURI no 22 tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan pasal 296 KUH Pidana dengan ancaman hukuman minimal 3 tahun dan maksimal 15 tahun penjara.(ono)

You might also like

Comments are closed.