Polisi Bubarkan Pelatihan Semi Militer di Lereng Sumbing

Ilustrasi
Ilustrasi

METROSEMARANG.COM – Kepolisian Daerah Jawa Tengah mencurigai aktivitas sekelompok orang yang berlatih semi militer di lereng Gunung Sumbing, Temanggung, Jumat 19 Februari, sebagai gerakan radikal yang membahayakan masyarakat setempat.

Kepala Bidang Humas Polda Jawa Tengah, Komisaris Besar Polisi Alloysius Liliek Darmanto membenarkan adanya pelatihan semi militer yang dilakukan 50 orang di lereng Sumbing.

“Jadi ada pelatihan semi kemilitreran yang dilakukan sekelompok orang di lereng Gunung Sumbing. Sekitar 50 orang yang berlatih di situ. Kemudian, masyarakat yang mencurigai gerak-gerik mereka lalu melaporkan kepada Polres Temanggung,” ungkap Liliek, saat dihubungi wartawan, Sabtu (20/2).

Liliek menyampaikan aksi pelatihan semi militer tersebut terpaksa dibubarkan, sebagai cara prefentif yang dilakukan polisi untuk menangani setiap hal-hal yang mencurigakan di tengah masyarakat.

Liliek menegaskan sejauh ini masih diselidiki apakah pelatihan semi militer di Sumbing berkaitan dengan aksi terorisme. “Ini lagi dalam pemeriksaan. Belum bisa dipastikan apakah yang mereka lakukan terkait gerakan terorisme atau tidak,” bebernya.

Ia menjelaskan, polisi dibantu warga Temanggung lalu menggeledah mobil yang terparkir tak jauh dari lokasi kejadian. Dari hasil penggeledahan, polisi menemukan beberapa pucuk senjata angin dan perlengkapan militer lainnya.

“Senin pekan depan, akan kami beritahu hasil penyelidikan yang sudah kami lakukan di lokasi kejadian. Tapi, kami mengapresiasi tindakan cepat yang dilakukan masyarakat dalam menanggulangi setiap gerakan yang dicurigai sebagai aksi teroris,” terang Liliek.

Sementara itu, berdasarkan informasi yang diperoleh di lapangan menyebutkan, 50 orang itu menggelar latihan semi militer di Dusun Jambon, Desa Gandurejo, Jumat (19/2) pukul 08.30 WIB kemarin. Mereka adalah anggota Jamaah Ansorut Syariah (JAS). (far)

You might also like

Comments are closed.