Polisi Telurusi Jaringan Pemasok Pil Koplo pada Rafii

Polisi masih menelusuri asal usul Pil Dextro yang menewaskan dua warga Kalialang. Foto Metrosemarang/Ilyas Aditya
Polisi masih menelusuri asal usul Pil Dextro yang menewaskan dua warga Kalialang. Foto Metrosemarang/Ilyas Aditya

SEMARANG – Polisi terus mendalami pengakuan Rafii (29), pemasok ratusan obat yang diduga Dextro, yang menewaskan dua warga Kalialang, Gunungpati, Eko Riyad (30) alias Kodok dan Darwadi (30) alias Monyet. Penuturan tersangka yang menyebut barang-barang tersebut didapat dari tempat rosok, diduga hanya sebagai alibi untuk memutus penyelidikan petugas.

Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Djihartono mengatakan tersangka Rafii dijerat pasal 204 ayat (2) KUHP karena membagikan barang yang diketahui membahayakan jiwa atau kesehatan orang. “Ancaman hukuman seumur hidup karena mengakibatkan orang lain meninggal,” kata Djihartono, Senin (2/2).

Selain itu, polisi juga masih mendalami asal obat yang diduga Dextro itu meski tersangka mengaku menemukannya di tempat rosok. “Pengakuan barang dari rosok, bisa saja itu hanya alibi tersangka. Kami tetap akan cari tahu asal usul obat tersebut,” tandasnya.

Kepada polisi, Rafii warga Genuk mengaku ratusan butir obat yang lazim disebut pil koplo itu ditemukan di sebuah tempat rosok pada Rabu (28/1). Dia lalu membawanya ke rumah Kodok, pada malam harinya, sekitar pukul 23.45.

Bersama Kodok  ia mencampur 100 butir obat tersebut dengan sebotol minuman bersoda. Keduanya meminum oplosan tersebut secara bergantian, bahkan Rafii juga menawarkannya ke Monyet yang tinggal tak jauh dari rumah Kodok. “Awalnya digerus 10 butir dulu, terus rasanya kayak obat batuk. Saya disuruh Kodok campur semuanya. Saya minum sedikit,” akunyà.

Setelah itu, Rafii meninggalkan kedua temannya. Pria dengan hiasan rajah di lengan tersebut baru mengetahui Kodok dan Monyet tewas dari ketua RT setempat. Dari hasil medis, keduanya mengalami iritasi di lambung. (yas)

You might also like

Comments are closed.