Pondok Boro, Tempat Berteduh Puluhan Perantau

Satu Kamar 20 Orang

Meja besar dan panjang yang ditutupi tikar di bagian atasnya, digunakan untuk tidur bersama oleh para penghuni pondok

ORANG-orang biasa menyebut rumah ini dengan Omah Boro, ada pula yang menyebutnya dengan Pondok Boro. Rumah di Kampung Sumeneban Nomor 144 ini dihuni oleh puluhan perantau.

Lorong antar kamar di Pondok Boro. (foto: metrosemarang.com/Zahra Saraswati)

Kebanyakan mereka bekerja sebagai tukang batu dan kuli panggul di pasar-pasar yang ada di Semarang. Mereka datang dari daerah-daerah di luar Kota Semarang, mengadu nasib untuk mendapat kehidupan yang lebih baik.

Pondok Boro seperti itu, dahulu banyak dijumpai di Kota Semarang. Lambat laun mulai berkurang. Saat ini, salah satu yang masih bisa ditemui adalah yang ada di Kampung Sumeneban.

Untuk dapat tinggal di pondok tersebut, satu orang penyewa wajib membayar uang Rp 3.000 per hari. Harga itu merupakan kenaikan dari harga sewa beberapa tahun lalu sebesar Rp 2.000 per orang per hari.

Meja besar dan panjang yang ditutupi tikar di bagian atasnya, digunakan untuk tidur bersama oleh para penghuni pondok. Satu meja besar dalam satu ruangan, bisa ditiduri oleh setidaknya 20 orang setiap malam.

Bukan hanya para lelaki yang meninggali Pondok Boro. Terdapat pula para perempuan, bahkan keluarga. Penyewa laki-laki dan perempuan, tidak bertempat di satu ruang. Para penyewa laki-laki bertempat di ruang paling belakang yang ukurannya paling besar.  Hal itu karena, jumlah penyewa laki-laki lebih banyak dari perempuan.

Sedangkan, keluarga-keluarga yang tinggal di sini, menempati satu ruangan tersendiri. Setiap bulan, mereka membayar sekitar Rp 200 ribu. Tahun ini, kenaikan sewa kamar untuk keluarga mencapai Rp 15 ribu per bulan.

Ada keluarga yang tinggal di sana hingga turun-temurun. Salah satunya adalah Partinah, ia telah 58 tahun tinggal di sana. “Sejak orang tua saya masih muda, sudah tinggal di sini. Makanya saya melanjutkan tinggal di sini, sambil berjualan,” katanya.

Keluarga Partinah berasal dari Kebumen. Mereka pindah ke Semarang demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari tempat asalnya. Hingga saat ini, Partinah masih meninggali ruangan yang dulu disewa orang tuanya, bersama anak dan cucunya.

Partinah membuka warung makanan di depan rumah boro. Menurutnya, berjualan makanan di tempatnya itu sangat menguntungkan. Oleh sebab, hampir seluruh penghuni Pondok Boro membeli makanan di warung Partinah. Penghasilan didapat Partinah dari berjualan makanan, cukup untuk membayar uang sewa kamar di Pondok Boro.

Partinah sendiri merupakan koordinator para penghuni. Para penghuni, setiap hari menyetorkan uang sewa kepada Partinah. Menurutnya, Pondok Boro itu dimiliki oleh seorang yang tinggal di Kawasan Banyumanik, Kota Semarang.

Kendati bisa dibilang tidak layak huni, namun Pondok Boro masih banyak diminati para perantau. Selain karena harga sewanya yang murah, bagi mereka yang tinggal di Pondok Boro, tempat tersebut terbilang nyaman. Setidaknya ada kamar mandi untuk keperluan mandi, cuci, kakus.

Menurut mereka yang tinggal di sana, tinggal di Pondok Boro lumayan sejuk, kendati hawa di luar sangat panas. Hal itu karena atap Pondok Boro yang masih menggunakan genteng tanah liat, juga dinding-dinding Pondok Boro yang memiliki cukup jendela.

“Nyaman. Ya disyukuri tinggal di sini. Kalau hujan tidak kehujanan. Kalau siang tidak perlu pakai kipas angin, karena di dalam masih sejuk,” kata Partinah. (*)

 

Penulis: Zahra Saraswati (magang), Jessica Celia (magang)
Editor: Eka Handriana
You might also like

Comments are closed.