Prof Budi: Buang Sisa Makanan, Sepele Tapi Bahaya

image

Selain emisi karbon, krisis air dan dampak ekologi, nitrogen turut menyumbang perubahan iklim. Pengaruh emisi nitrogen terhadap pemanasan global mencapai 310 kali lebih tinggi dari emisi karbon. Darimana asal emisi nitrogen? Salah satu sumbernya adalah pangan.
Sejak ditanam, tanaman pangan dipupuk nitrogen. Lalu, tak semua bagian hasil panen menjadi produk pangan, nitrogen terlepas. Ada yang menjadi pakan ternak, ternak memakan nitrogen dan terkandung di dagingnya.  Pengolahan produk pangan dan distribusinya, juga mencecerkan nitrogen di lingkungan.

Di rumah-rumah, ada kebiasaan konsumsi yang tidak bijak. Yakni membuang makanan yang sebetulnya bisa dimakan. “Makanan yang dibuang  mengeluarkan emisi nitrogen. Mencemari udara dan air,” kata Peneliti pangan dan lingkungan dari Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang, Prof Budi Widianarko.
Statistik Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (Food and Agriculture Organization/FAO) tahun 2007 menyebut sebanyak 8,6 juta ton emisi nitrogen per tahun dibawa total pangan yang dihasilkan di Uni-Eropa. Sebanyak 1,06 juta ton emisi nitrogen per tahun terbuang bersama makanan.
FAO tahun 2013 menyebut setiap orang di Taipe dan Seoul membuang 0,2 kilogram makanan per hari. Sedangkan di Hongkong, 0,4 kilogram makanan dibuang setiap orang per hari. Penelitian yang dilakukan di Jakarta menyebutkan sekurangnya 0,5 kilogram makanan dibuang setiap orang setiap hari.

Prof Budi mengatakan, emisi nitrogen dapat ditekan. Salah satunya dengan pola konsumsi yang bijak. “Akar persoalannya menurut saya adalah kebiasaan konsumsi. Ironis, ada lemari es tapi justru lebih banyak makanan yang kita buang,” demikian Budi.

Urusan limbah makanan, sebagian bisa diatasi dengan kemasan. Tahun 2012, peneliti di Massachusetts Institute of Technology (MIT), Dave Smith menemukan LiquiGlide™. Pelapis kemasan yang terdiri dari lapisan padat berpori yang dibungkus lapisan cair.

Inovasi ini memungkinkan cairan kental yang dikemas mudah bergerak. Jika diaplikasikan dalam pelapis botol makanan, maka botol akan bersih tak berbekas jika isinya dituang. Sisa makanan tidak akan menjadi limbah makanan yang terbuang bersama kemasannya.

“Tahun 2015 nanti diharapkan kemasan ini sudah dipakai untuk mayones, saos tomat, hingga pasta gigi. Mengurangi limbah makanan,” kata Pakar kemasan dari Universitas Queensland, Brisbane, Australia, Prof Gordon Robertson dalam seminar pangan dan lingkungan di Unika.

Nah, jika botol saos saja sudah enggan membawa serta sisa isinya ke tempat pembuangan, masihkah anda akan menghambur-hamburkan makanan? Prof Budi menyarankan agar setiap rumah tangga membeli bahan makanan secara bijak. Setiap orang disarankan hanya memesan makanan yang sanggup dimakan. (MS-06)

You might also like

Comments are closed.