Profesor Australia Tinjau Hutan Mangrove Desa Tapak

Profesor Joe Lee dari Griffith University mengunjungi desa ekowisata Tapak, Tugurejo, Kamis (27/11). Foto Metrosemarang/Ade Lukmono
Profesor Joe Lee dari Griffith University mengunjungi desa ekowisata Tapak, Tugurejo, Kamis (27/11). Foto Metrosemarang/Ade Lukmono

SEMARANG – Profesor Joe Lee dari Griffith University mengunjungi desa ekowisata Tapak, Tugurejo, Kamis (27/11). Joe Lee adalah profesor Australian Rivers Institute and School of Environment, Griffith University.  Didampingi jajaran SKPD Kota Semarang, Joe Lee meninjau langsung kondisi hutan mangrove yang ada di desa tersebut.

Dalam kunjungan ini Joe ingin berbagi mengenai manfaat dan peran mangrove pada para akademisi dan penggiat lingkungan. Selain sebagai penahan ombak, keberadaaan mangrove juga dapat memajukan desa dengan budidaya ikan ataupun kepiting.

Dengan menggunakan sarana kapal kayu boat, Joe Lee mengamati kondisi hutan mangrove yang ada. Usai mengunjungi hutan mangrove Joe masih memiliki sejumlah agenda di Kota Semarang.

Dia menjelaskan, habitat pesisir pantai menawarkan jasa ekosistem yang signifikan seperti perikanan, produksi kayu, keanekaragaman hayati, fungsi pembibitan. Selain itu, keberadaan ekosistem pesisir juga menyumbangkan pengaturan iklim, siklus hara serta pengembangan rekreasi dan ekowisata.

Sejumlah upaya yang dapat dilakukan untuk pelestarian hutan mangrove di antaranya rencana perubahan iklim, penghentian perusakan mangrove, konversi tambak udang bekas atau tidak produktif kembali ke bakau, penanaman kembali hutan bakau, serta upaya pemberdayaan dan pelibatan masyarakat lokal dalam konservasi dan pengelolaan hutan mangrove. (ade)

You might also like

Comments are closed.