Psikolog: Gay Bukan Penyakit Kejiwaan

Ilustrasi
Ilustrasi

GAY dan lesbian tidak bisa disebut sebagai penyakit kejiwaan, namun lebih cocok disebut sebagai gangguan yang menggambarkan kondisi mental. Hal ini diungkapkan oleh dosen Fakultas Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya) Kristianto Batuadji.

“Di barat, suatu kondisi mental tertentu dapat disebut sebagai gangguan jika memunculkan gangguan pada lingkungan atau orang lain. Namun jika mereka tidak menimbulkan keresahan, artinya hanya dalam lingkup kaum mereka sendiri, kurang tepat jika disebut gangguan,” paparnya.

Dia menambahkan, dalam masyarakat Asia, gay dan lesbian sering dikaitkan dengan dengan perilaku yang tidak terpuji dengan dibenturkan faktor sosio-kultur.

Beberapa hasil penelitian menyatakan bahwa belum ada psikoterapi yang bisa mengubah orientasi seksual seseorang. Psikoterapi lebih bermanfaat untuk memulihkan kepercayaan diri dan harga diri kaum homoseksual yang terenggut.

“Perubahan orientasi seksual bisa berasal dari faktor lingkungan dan trauma masa kecil. Ini bisa dipulihkan dengan cara diajak untuk berdamai dengan masa lalunya dan terus dilakukan pendampingan dan dukungan agar dia tetap nyaman pada proses perubahan,” terang Kristian.

Namun jika penyebabnya adalah faktor biologis, bukan perilakunya yang disembuhkan, namun kepercayaan dirinya agar stigma buruk masyarakat atas dirinya tidak terlalu membebaninya sekalipun mempunyai orientasi seksual yang berbeda. (ade)

You might also like

Comments are closed.