PSIS Inginkan Klarifikasi soal Sanksi FIFA

General Manager PSIS Kairul Anwar dan Direktur Teknik Setyo Agung Wibowo. Foto Metrosemarang
General Manager PSIS Kairul Anwar dan Direktur Teknik Setyo Agung Wibowo. Foto Metrosemarang

SEMARANG – Manajemen PSIS menginginkan klarifikasi terkait sanksi yang dijatuhkan Komite Disiplin FIFA atas tuduhan melanggar kewajiban untuk menjaga kerahasiaan data terkait Sistem Transfer yang diberlakukan induk sepakbola sejagat tersebut. Sejauh ini belum ada pemberitahun resmi dari FIFA yang ditujukan pada PSIS.

PSIS termasuk salah satu dari tiga klub Indonesia yang dijatuhi sanksi berupa denda karena dituding mengunggah data rahasia Transfer Matching System (TMS) melalui akun Twitter resmi klub. Klub berjuluk Mahesa Jenar ini diwajibkan membayar denda 15 ribu Franc Swiss atau Rp 191 juta.

Selain PSIS, FIFA juga menjatuhkan sanksi kepada Persebaya Surabaya dan Persires Bali Devata berupa denda masing-masing 25 ribu Franc Swiss atau Rp 318 juta. Kedua klub inilah yang dianggap pertama kali mengunggah data rahasia yang dikirimkan oleh FIFA TMS.

General Manager PSIS Kairul Anwar belum berani berkomentar banyak terkait hukuman tersebut. Sejauh ini, klub juga masih belum memahami sanksi yang dirilis FIFA pada 9 November itu.

“Kami ingin minta klarifikasi dulu. Jujur saja, kami juga masih bingung dengan sanksi yang dijatuhkan FIFA karena sejauh ini kami tidak merasa melakukan apa yang dituduhkan,” kata Kairul, saat dihubungi metrosemarang.com, Rabu (10/12).

Pria yang berprofesi sebagai pengacara ini menambahkan, dugaan pelanggaran yang dialamatkan kepada PSIS tersebut sangat dimungkinkan terjadi sebelum pengelolaan diambil alih PT Mahesa Jenar Semarang.

“Makanya, kami juga akan melakukan penelusuran untuk menemukan ujung permasalahan yang dituduhkan FIFA. Kami juga ingin mencari kejelasan, kesalahan itu terjadi di musim kapan dan siapa pengelolanya,” lanjut Kairul.

Menurut rilis yang dikeluarkan FIFA, ini pertama kalinya Komite Disiplin menghukum klub karena melanggar aturan kerahasiaan dengan menggunakan media sosial sebagai medium. Namun, FIFA tidak melansir secara detil waktu maupun bentuk cuitan yang diunggah PSIS dan dua klub lainnya.

TMS sendiri adalah sistem transfer yang mengatur perpindahan pesepak bola (khusus untuk pria) antar negara. Sejak Oktober 2010, semua proses transfer pemain harus dilakukan secara benar dengan menggunakan TMS, yaitu dengan data diunggah menggunakan platform dalam jaringan (online).

Pihak yang terlibat dalam proses transfer diwajibkan untuk menjaga kerahasiaan data untuk menjaga keamanan lebih dari 6.500 klub dan juga 209 asosiasi sepak bola yang menggunakan sistem tersebut. (twy)

 

 

You might also like

Comments are closed.