Pukat Dilarang, 9 Nelayan Jateng Gugat Menteri Susi

Demo nelayan Rembang menolak larangan penggunaan cantrang, Maret 2015. Foto: dok metrojateng.com
Demo nelayan Rembang menolak larangan penggunaan cantrang, Maret 2015. Foto: dok metrojateng.com

METROSEMARANG.COM – Sembilan nelayan asal Pati dan Rembang Jawa Tengah, mengajukan gugatan terhadap Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KKP) Nomor 2 Tahun 2015 tentang larangan Penggunaan Alat Tangkap Pukat Heila dan Pukat Tarik ke Mahkamah Agung (MA).

Gugatan tersebut kini sudah memasuki tahapan uji materiil untuk meminta peraturan yang dibuat Menteri Susi Pudjiastuti itu, dicabut. Alasan mereka, karena aturan Menteri Susi cenderung menyengsarakan nelayan.

Sekjen DPP Perhimpunan Petani dan Nelayan Sejahtera Indonesia (PPNSI), Riyono lantas membeberkan tiga poin utama yang diajukan anggotanya dalam uji materiil Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 2 Tahun 2015.

Yang pertama, nelayan meminta MA mencabut Permen tersebut dengan alasan dalam Pasal 2, 4, dan 5 yang dikeluarkan Menteri Susi Pudjiastuti dianggap bertentangan dengan Undang-Undang (UU Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan UU Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan.

“Itu bertentangan dengan aturan yang lebih tinggi. Maka harus dicabut. Di Permen disebutkan pula cantrang dan pukat tarik dilarang, tapi ada pajak untuk dua alat tangkap tersebut,” kata Riyono, Rabu (6/1).

Poin gugatan kedua, lanjutnya, permen tersebut juga dianggap bertentangan dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 75 Tahun 2015 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Untuk menindaklanjuti gugatan tersebut, lembaganya sudah mendaftarkan ke MA melalui Direktorat Pranata dan Tata Laksana Perkata Tata Usaha Negara MA tertanggal 26 November 2015. “Kami ingin dicabut, karena lebih banyak merugikan,” kata Heri Budianto seorang penggugat.

Lagipula, ia menambahkan, berdasarkan data kinerja nelayan yang dihimpun dari Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Tengah diketahui sepanjang Oktober 2015 kemarin, terdapat sekitar 1.213 kapal nelayan masih memakai cantrang di Jawa Tengah dan 600 kapal di antaranya masih mengantongi izin beroperasi. (far)

 

You might also like

Comments are closed.