Puluhan Warga TBRS Selamatan Nyadran Sendang

image
Nyadran Sendang - Lapak Seni (foto:Metro Semarang/MS-08)

SEMARANG – Puluhan warga berkumpul di bagian belakang Taman Budaya Raden Saleh, Jalan Sriwijaya, Semarang. Orang-orang yang semuanya menutup kepala dengan caping itu duduk takzim mengelilingi dua nasi tumpeng.

Mereka adalah warga sekitar TBRS, pemilik warung, seniman, mahasiswa, dan masyarakat umum yang setiap hari beraktifitas di taman budaya itu. Sore itu mereka melaksanakan selamatan nyadran sendang, setelah sedari pagi bekerja bakti membersihkan area sumber air itu. 

Berdasarkan penuturan warga sekitar TBRS, sendang itu dulu luasnya kira-kira seratus meter persegi. Airnya yang melimpah dan bening menjadi tumpuan kebutuhan sehari-hari warga Kelurahan Genuk. Wali Kota Semarang, Iman Suparto, bahkan memanfaatkan air sendang untuk memenuhi kebutuhan air Pekan Raya dan Promosi Pembangunan Jawa Tengah tahun 1981. Sebentuk bangunan pompa air yang masih berdiri hingga sekarang memiliki artefak yang menerangkan sendang berdebit 4 liter perdetik itu. 

Tapi lambat laun sendang itu terlupakan. Ditebanginya pohon-pohon di TBRS dan sekitarnya mengakibatkan debit air sendang mengecil dan area basahnya mengering. Kini sendang itu hanya serupa sumur yang dipagari dengan batu bata. Beberapa pipa paralon tercelup ke dalamnya dengan ujung satunya mengarah ke warung TBRS dan rumah warga.

Selamatan dipimpin Kiai Budi Harjono, budayawan sekaligus pimpinan Pesantren Al Ishlah Meteseh Semarang. Menurutnya, sendang adalah sumber kehidupan. Melupakan sendang berarti melupakan kehidupan. Caping yang ia bagikan pada hadirin sebelum nyadran adalah pengingat manusia akan alam. “Caping yang terbuka serupa samudera, caping tertelungkup seperti gunung,” ujarnya.

Nyadran sendang itu sekaligus sebagai pembuka Lapak Seni Raden Saleh. Acara yang berlangsung hingga Selasa (28/10) itu mengambil tempat sekitar tembok bagian Barat TBRS yang berbatasan dengan Wonderia. 

Menurut Ketua Panitia Lapak Seni, Ibrahim, Lapak Seni adalah ajang guyub seluruh entitas TBRS. Selama ini taman budaya ini serupa terminal manusia, dari pekerja seni, sales, SPG, aparat hingga pengangguran. Ironisnya, mereka bukan hanya tak saling sapa, tapi juga tak mengenali lingkungan tempat nongkrongnya.

Lapak Seni diisi dengan pameran karya seni. Di antaranya, pameran karya seni siswa SMP 17 Semarang, SMA 2 Semarang, dan SMA Sedes Sapientae. Pameran karya patung dan topeng dari Komunitas Kandang Gunung, pameran lukisan Komunitas Raden Saleh, seni tato Komunitas Akar Asem, keramik Mbah Prapto, wayang Sobokartti, Wayang Tenda Nandang Wuyung, buku Babahe, instalasi art Bayu Tambeng, dan barang-barang antik. (MS-08)

You might also like

Comments are closed.