Pundi-Pundi Rupiah Seorang Desainer Grafis Muda

Rikiyatun Latifah

Tak perlu menjadi karyawan perusahaan atau sejenisnya, Rikiyatun sudah bisa berpenghasilan sebesar gaji karyawan

DIGITALISASI yang terjadi pada era industri 4.0 sekarang ini memunculkan tren ekonomi baru. Istilah gig economy muncul menggambarkan tren ekonomi baru itu. Tren ini bergantung pada pekerja lepas, gig workers sebutannya.

Dominasi kaum milenial sangat kuat di era gig economy ini. Mereka adalah bisa siapapun, dan bisa bekerja di manapun.

Salah satunya Rikiyatun Latifah. Gadis 24 tahun ini masih berstatus mahasiswa yang menempuh pendidikan di Universitas Semarang. Tak usah menunggu hingga bergelar sarjana, ia sudah mampu menjalankan bisnisnya.

Rikiyatun menjual jasa dari keahlian yang ia miliki, desain grafis. Media sosial menjadi andalan teknik pemasarannya. Hasilnya? Tak perlu menjadi karyawan perusahaan atau sejenisnya, Rikiyatun sudah bisa berpenghasilan sebesar gaji karyawan.

Kami menemui Rikiyatun dan berbincang tentang bagaimana ia menjalankan bisnis jasanya.

“Manfaatkan waktu mudamu sebelum datang penyesalan.”
– Rikiyatun Latifah, Desainer Grafis –

 

Mulai kapan kamu belajar desain?

Mulainya itu dulu waktu masuk SMK jurusan multimedia. Nah, di situ salah satu pelajarannya adalah editing. Software yang dipakai itu CorelDRAW sama Adobe Photoshop

Dulu aku pernah kerja di salah satu percetakan foto. Teknik yang dipakai paling cuma standar saja. Seperti crop dan ganti background.

 

Kamu merasa desain adalah passion mu?

Iya

 

Sejak kapan hal itu kamu rasakan?

Sebenarnya sudah sejak SMK. Dari SMP aku sudah suka gambar-gambar. Tapi dulu sering dicela. Nah, terus waktu lulus SMP, tanya-tanya soal sekolah yang mempelajari desain-desain. Lalu akhirnya aku masuk multimedia.

 

Lalu kamu buka bisnismu yang berhubungan dengan desain ini. Bagaimana ceritanya?

Dulu niatnya pengen kuliah di perguruan tinggi negeri. Tapi dua kali mencoba enggak keterima. Padahal sudah memakai semua jalur. Mulai dari SBMPTN sampai jalur mandiri.

Lalu aku punya inisiatif mau ngasih kado teman. Coba-coba buat tutorial di Youtube diupload juga di Facebook, ternyata banyak yang komen. Terus aku mikir, sudah dapat dukungan, kenapa nggak dijual.

Dari situ berlanjut, aku coba buat akun dulu. Awalnya nggak yakin bakalan bisa ramai, soalnya pertama pasti butuh proses dan butuh waktu untuk cari konsumen sama kepercayaan konsumen, baru dapat nama di masyarakat.

 

Persisnya kapan mulai serius membuka usaha ini?

Setelah memutuskan membuat nama usaha di Instagram dan mulai rame. Ngerasa, seru kayaknya. Itu sekitar tiga tahun lalu.

 

Apa yang kamu tawarkan?

Ada banyak. Yang dua dimensi, produk pertama yang aku buat itu siluet, water art sama mozaik. Kalau tambahannya sampai sekarang ada logo galaxy, sketsa pencil, smoke painting, sama 3D pop up. Biasanya aku butuh waktu pengerjaan  itu sekitar 2 hari.

Bisa meminta pesanan khusus di luar produk yang kamu tawarkan?

Untuk editing bisa sih. Selama ini juga ada. Seperti misalnya ada yang minta gambar kartun, ada yang minta vektor. Tapi biasanya kalau sepertu itu, butuh lebih panjang waktunya. Aku pelajari dulu bentuknya seperti apa, gitu.

 

Aplikasi apa yang biasa kamu pakai untuk pekerjaanmu?

Standarnya CorelDRAW sama Photoshop. Cuma proporsinya lebih banyak Photoshop.

 

Ngomong-ngomong, modal awal untuk membuka usaha?

Kan kalau jasa seperti ini nggak butuh modal banyak. Dulu cuma butuh sekitar 30.000 itu buat cetak sama beli frame kayu.

 

Kalau boleh tahu, berapa nominal yang kamu tetapkan untuk karya-karyamu?

Paling bawah itu Rp 55 ribu. Dulu pertama kali Rp 50 ribu. Sekarang naik 10%, karena dari bahan sendiri tahun ini naik semua.

 

Kalau seperti kamu begini, hambatannya dalam membangun bisnis apa sih?

Kalau sekarang sih waktu ya. Karena aku kuliah. Biasanya kalau pas ramai, aku harus ngalahi lembur gitu

 

Memangnya kamu kerja sendiri? Atau punya karyawan?

Sempat ada (karyawan – red) sih, tiga bulanan. Tapi sekarang sudah nggak ada. Belum nemu yang cocok. Pengennya, besok-besok bisa nemu lagi yang cocok. Karena kalau sudah skripsi, butuh fokus ngerjakan skripsi. Jadi aku ngawasi kerjaan saja. Insyaallah.

 

Biasanya satu bulan dapet pesenan berapa?

Nggak mesti sih, minimal sehari satu. Kalau untungnya, akhir-akhir ini untuk ukuran UMK (upah minimum kota) Semarang, pasti dapat. Kalau ramai banget, bisa dua kalinya.

 

Kalau ramai saat apa aja?

Kalau ada momen-momen seperti Valentine, Hari Ibu, atau hari hari besar lain. Biasanya untuk kado-kado.

 

Inspirasimu saat membuat desain, datang dari mana? Atau dari siapa?

Kalau biasanya sih aku cari ide pas malam-malam. Soalnya aku kalau cari ide itu butuh ketenangan. Biasanya sih aku ngikutin tren terbaru.  Kalau inspirasi buat kado, biasanya aku cari lewat orang-orang terdekat.

 

Pernah nggak pada saat membuat desain foto, kamu merasa kurang puas dengan hasilnya?

Dari sisi akunya sih iya. Kalau nurutin permintaan konsumen pasti kan beda selera. Tapi namanya juga konsumen, dia yang bayar, jadi kita yang nurutin dia maunya.

 

Pernah dapat komplain dari customer? Bagaimana cara mengatasinya?

Sering sih, misal ada kesalahan cetak atau barang cacat dan lupa menyortir. Cara mengatasinya, ya seumpama customer marah-marah, atau ngegas, kita yang santai saja menanggapi. Biar customer biar lebih tenang.

 

Pernah dapat customer yang benar-benar menyusahkan?

Pernah. Misalnya kemarin itu, ada yang pesan water art. Nah, basicnya water art sendri kan kita gambar ulang. Jadi butuh kualitas foto yang baik. Tapi dari awal sudah susah menjelaskan ke dia. Yang ada malah customer tetap ngeyel. Belum lagi permintaan tambahan, yang hidungnya pengen dimancungin, dan lain-lain.

Untuk menyiasati yang seperti itu, biasanya aku sudah kasih peraturan di awal, sebelum fix order. Yakni boleh revisi, maksimal dua kali sebelum cetak.

Pernah juga ada customer yang sebenarnya sudah beberapa kali order. Terus yang terakhir, order udah jadi dan siap dikasih. Tapi dikasih kabar, bilangnya besok-besok. Ternyata nggak diambil dan malah diblock.

Waktu awal-awal aku masih belum mengerti tentang customer gimana. Sekarang sudah tahu.

 

Kamu nggak bosan mengerjakan ini?

Kalau jenuh sih pasti iya. Setiap hari kerjaan begitu, melakukan editing, ketemunya itu-itu saja. Bosan sih bosan. Cuma itu namanya tuntutan pekerjaan, ya gimana?

Tapi bisa disiasati. Ditinggal sebentar, buat jalan-jalan, makan, hangout. Desain itu kan peran utamanya dari mood pembuatnya. Jadi kalau pembuatnya lagi nggak mood biasanya  hasilnya nggak maksimal.

 

Kamu punya strategi untuk mempertahankan bisnis jasamu ini?

Inovasi. Jadi, dari produk-produk yang sudah ada atau yang pernah ada, selalu kita kasih pembaruan. Mulai dari desainnya temanya, kita bikin produk baru agar konsumen enggak bosan dan kembali pesan, karena ada yang baru.

 

Yang mendukungmu buka bisnis jasa ini siapa?

Bapak sih. Ibu juga. Tapi bapak lebih antusias. Biasanya ngantar ke mana-mana, sampai menghias pigura, itu bapak yang bikin malahan. Aku sendiri nggak punya inisiatif buat seperti itu. Kalau ibu, lebih ke mendampingi saja.

Keluarga sangat mendukung. Mereka memberikan tempat, support. Teman-teman dekat juga mendukung. Biasanya mereka membantu saat aku harus bertemu klien di mana gitu, atau saat aku harus membuat stok barang.

 

Apa rencanamu setelah lulus kuliah?

Mau bikin galeri dulu sih, setelah lulus S1

 

Ada yang ingin kamu sampaikan kepada orang-orang seusiamu?

Khususnya untuk anak muda, selagi muda, punya waktu dan belum banyak tanggungan, manfaatkan waktumu sebaik-baiknya. Lebih baik kehilangan masa muda daripada masa depan.

Bikin usaha itu nggak, susah kalau kita mau mencobanya. Rintangan pasti ada. Tapi dengan adanya rintangan saat ini, kita akan menjadi lebih siap menghadapi rintangan berikutnya. (*)

 

 

Penulis: Zahra Saraswati (magang), Jessica Celia (magang)
Editor: Eka Handriana
You might also like

Leave A Reply