Ratusan Imigran Timur Tengah Menumpuk di Rudenim Semarang

Ilustrasi
Ilustrasi

METROSEMARANG.COM – Ratusan imigran gelap dari Timur Tengah hingga saat ini terpaksa ditampung di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Semarang. Mereka kebanyakan jadi korban perang saudara di beberapa negara Arab yang mencari suaka ke Indonesia.

Kasi Informatika dan Sarana Komunikasi Imigrasi Klas I Semarang, Muhammad Asrofah mengatakan, ratusan imigran itu kini menghadapi masalah administrasi seperti tidak memiliki dokumen keimigrasian, masuk secara gelap, penyalahgunaan izin tinggal hingga diketahui nekat menyeberang ke Indonesia untuk mencari perlindungan hukum (suaka).

“Mereka rata-rata dari Afganistan, Pakistan, Iran dan Palestina. Tiap hari ada imigran gelap yang masuk di Rudenim Jalan Hanoman Raya,” ujar Asrofah, Senin (18/1).

Menurutnya, kapasitas ruang penampungan imigran gelap di Rudenim kini terus membengkak. Ia pun khawatir apabila tak segera ditanggulangi maka bisa memuculkan masalah baru di masa mendatang. “Makanya kami lakukan koordinasi dengan perwakilan kantor kedutaan asal negara imigran tersebut,” bebernya.

Ia menyebut para imigran gelap itu telah menghuni Rudenim selama berbulan-bulan. Menurutnya, para WNA yang sudah terlalu lama, telah dilaporkan petugas imigrasi ke kedutaan besar di Jakarta. Kebanyakan WNA yang masuk adalah pencari suaka negara lain yang nyasar ke Indonesia. Sebagian dari mereka tidak mau kembali lagi ke negara asal.

“Kalau pulang biasanya dibiayai International Organization for Migration (IOM) usai kordinasi dengan dubes tempat asal imigran,” ujar Asrofah.

Kepala Imigrasi Klas 1 Semarang, Himron menyatakan kantornya tidak bisa serta merta mengawasi masuknya para imigran gelap. Sebab, disamping melakukan pelayanan dan pengawasan keimigrasian kepada masyarakat, imigrasi juga memiliki fungsi lain yaitu penegakan hukum. Untuk itu, tahap pengawasan orang asing sulit untuk mencakup semuanya. (far)

You might also like

Comments are closed.