Ratusan Siswa Smaga Tak Lolos SNMPTN, Alumni Minta Pihak Sekolah Bertanggung Jawab

METROSEMARANG.COM – Kegagalan ratusan siswa IPA SMA Negeri 3 Semarang dalam ujian Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), juga mengundang reaksi dari alumni sekolah setempat. Sebagai sekolah favorit, kasus yang menimpa siswa jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) itu dianggap di luar kewajaran.

Fathoni, salah seorang alumni Smaga angkatan 1986, meminta pihak sekolah segera mengusut kasus ini. Dia enggan buru-buru berspekulasi terkait penyebab kegagalan adik angkatannya itu dalam ujian SNMPTN.

Ilustrasi. Laboratorium komputer SMA Negeri 3 Semarang. Foto: metrosemarang.com/dok
Ilustrasi. Laboratorium komputer SMA Negeri 3 Semarang. Foto: metrosemarang.com/dok

“Kami para alumni juga terkejut saat mendengar kabar bahwa tak satupun siswa IPA yang lolos SNMPTN. Kasus ini harus segera diurai akar permasalahannya. Pihak sekolah juga tak bisa lepas tangan,” katanya kepada metrosemarang.com, Rabu (1/5).

Warga Sampangan ini menganggap kasus yang dialami siswa IPA Smaga sebagai sebuah ‘tamparan’. “Sejak era kami dulu, SMA 3 sudah menjadi ‘langganan’ di perguruan tinggi negeri, baik melalui jalur PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan) maupun UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Jumlahnya juga mencapai ratusan,” imbuh anggota Alste’86 ini.

Dugaan kesalahan sistem dalam kasus ini, menurut dia juga menjadi tanggung jawab pihak sekolah. Seperti diketahui, SMA Negeri 3 Semarang merupakan sekolah yang menerapkan sistem kredit semester (SKS) dalam pembelajarannya. Sebanyak 380 siswa jurusan IPA reguler yang tidak lolos SNMPTN.

“Kalau memang ada perbedaan sistem, seharusnya pihak sekolah juga sudah melakukan sosialisasi. Kalau acuannya nilai, tentunya hal ini sebuah kemunduran. Tapi, memang cukup aneh ketika tak satupun dari siswa IPA yang lolos, ini yang harus segera diurai sebabnya,” kata dia.

Sebelumnya, Kepala SMA Negeri 3 Semarang, Bambang Nianto Mulyo mengaku telah menyampaikan duduk persoalan dan menanyakannya kepada panitia SNMPTN pusat, namun pihaknya belum mendapatkan jawaban memuaskan.

“Sebenarnya kami telah mengirimkan surat terkait pola dan sistem SKS yang kami terapkan kepada 12 Perguruan Tinggi di seluruh Indonesia, namun hanya Unnes yang membalas surat kami,” tutur Bambang, Selasa (10/5).

Pihak sekolah juga berencana membuat Nota Protes yang akan ditujukan kepada Panitia SNMPTN dengan tembusan pada Menteri Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti), Muhammad Nasir. (twy)

 

 

 

You might also like

Comments are closed.