Record Store Day Semarang 2018, Rilisan Fisik Masih Ada

METROSEMARANG.COM – Guna memperpanjang nafas pecinta rilisan fisik di Kota Semarang khususnya, komunitas Lapak024 menggelar Record Store Day (RSD) Semarang 2018, Minggu (29/4). Digelar di G – Caffe Resto and Beer House, Jalan Hasanudin, Semarang, kegiatan tersebut diikuti sekitar 23 lapak dari berbagai kota.

Koordinator RSD Semarang 2018, Aris Wibowo mengatakan, puluhan lapak tersebut bahkan ada yang datang dari luar Kota Semarang. “Semuanya itu ada 23 lapak, sebagian besar dari Semarang. Ada juga yang dari Jakarta, Bekasi, Pekalongan, dan Kudus,” ujar Aris. Ada berbagai macam barang yang dijual di RSD Semarang kali ini. Mulai dari kaset pita, CD, walkman, kaos dan berbagai macam barang lain yang sebagian besar berhubungan dengan musik.
record store day
Record Store Day (RSD) 2018 Semarang digelar di G – Caffe Resto and Beer House, Jalan Hasanudin Semarang, Minggu (29/4). (foto: metrosemarang.com/Efendi)

Aris juga mengatakan, ini merupakan RSD kali kelima yang diselenggarakan di Semarang. Sejak pertama kali digelar pada tahun 2014 lalu, tampaknya animo masyarakat semakin meningkat. Dari yang awalnya hanya datang dan melihat, kini mulai banyak yang beli.

“Tahun 2014 pas pertama itu lumayan banyak yang datang, tapi ya cuman liat-lihat saja. Mulai 2015 dan tahun-tahun berikutnya mulai banyak transaksi dan banyak yang beli. Sekarang juga semakin banyak kolektor-kolektor rilisan fisik,” imbuh pria yang juga memiliki lapak bernama Nomaden Store.

Untuk kaset maupun CD, ada berbagai macam genre musik yang dijual dalam kegiatan ini. Mulai dari Pop, Metal, Folk dan beberapa lainnya. “Memang untuk saat ini banyak yang nyari kayak akustik dan musik-musik folk gitu. Haragnya kalau di saya mulai dari Rp 25 ribu sampai ratusan ribu,” kata Aris.

Aris juga berharap, kedepan bisa semakin banyak yang suka maupun memproduksi rilisan fisik. Pasalnya menurutnya ada banyak pengalaman tersendiri di setiap proses produksi rilisan fisik. Tidak seperti digital yang lebih pendek prosesnya, produksi rilisan fisik melibatkan banyak sentuhan.

“Rilisan fisik itu juga memikirkan desain, memikirkan visual, dan penataannya juga dipikirkan. Dan hasilnya bisa disentuh, ada perasaan tersendiri bisa nyimpan rilisan fisik ini. Ya saya harap kedepan banyak musisi, banyak band juga yang membuat rilisan fisiknya,” pungkas Aris.

Sementara, pengelola Semarang On Fire, Afri Wibisono mengaku saat ini sangat sulit mendapatkan tempat untuk menyelenggarakan kegiatan semacam ini. Padahal kegiatan seperti ini bisa menciptakan sebuah komunikasi antar pengunjung dan juga pelapak hingga muncul berbagai kacam ide kreatif yang mungkin bisa diaplikasikan ke acara lain.

“Kenapa akhirnya diselenggarakan di G-Caffe Resto and Beer House ini, ya karena sudah mentok. Bingung juga mau ke tempat mana lagi karena di Semarang kami sangat susah mencari tempat untuk bisa kami berkarya. Sebenarnya awalnya itu mau di RRI, Jalan Ahmad Yani, tapi perizinannya susah, lama. Padahal kita sudah harus mengeluarkan pamflet juga,” tukas Afri.

Memang berbeda dari sebelumnya, RSD di Kota Semarang kali ini hanya diselenggarakan selama sehari. Kendala tempat dan biaya lah yang mempengaruhi lamanya waktu kegiatan. Pasalnya sama sekali tidak ada sponsor dalam kegiatan ini. Sumber dana merupakan hasil kolektif dari para pelapak. (fen)

Comments are closed.