Relokasi Pedagang Pasar Karangayu, Dewan Minta Warga Dilibatkan

METROSEMARANG.COM – Rencana relokasi pedagang Pasar Karangayu ke lapangan kelurahan mendapat penolakan dari warga setempat. DPRD Kota Semarang meminta agar Dinas Pasar segera melakukan pendekatan dan sosialisasi, sehingga warga memeroleh informasi yang sejelas-jelasnya tentang proyek revitalisasi Pasar Karangayu.

”Lokasi ideal untuk relokasi memang di lapangan Kelurahan Karangayu. Tentang adanya penolakan, harus ada pendekatan yang baik dengan warga dan memberi jaminan atas persoalan yang dikhawatirkan masyarakat, termasuk soal kebersihan dan tentang fungsi lapangan itu sendiri nantinya,” kata Danur Risprianto, anggota Komisi B DPRD Kota Semarang.

Pasar Karangayu Semarang. Foto: metrosemarang.com/khoiruddin muhammad
Pasar Karangayu Semarang. Foto: metrosemarang.com/khoiruddin muhammad

Politisi Partai Demokrat ini menambahkan, pendekatan dengan masyarakat tersebut sangat penting untuk meminimalisasi persoalan. “Jika relokasi bisa tuntas, tentunya pembangunan pasar bisa segera dimulai,” tandasnya.

Sebelumnya, Wali Kota Hendrar Prihadi berharap warga tidak perlu resah dengan rencana pembangunan Pasar Karangayu, yang ditargetkan rampung dalam dua tahun.  Tentang kekhawatiran warga akan rusaknya aset setelah digunakan untuk lapak sementara, Hendi pun menjamin pemkot akan bertanggung jawab akan memperbaikinya.

Menanggapi rencana relokasi, salah seorang pedagang Pasar Karangayu, Sunarti meminta agar para pedagang tidak dipisah-pisah dan tetap ditempatkan di satu lokasi. Dia mengaku tak ada masalah dimanapun nantinya akan ditempatkan.

“Kalau disuruh pindah tempat untuk sementara, di manapun nggak masalah. Yang penting itu, pedagang dijadikan satu, biar tidak ada yang ngiri,” kata Sunarti pedagang yang tak mempunyai kios dan memanfaatkan emperan untuk berjualan.

Sebagai pedagang yang tidak mempunyai kios resmi, dia berharap masih mendapat perhatian dari pemerintah. Lapak yang digunakannya pun sebenarnya lahan untuk parkir kendaraan. Untuk bisa menempati lapaknya itu, ia setiap hari harus setor uang pelanggaran maupun pungutan lainnya. “Sehari ya kurang lebih Rp 25 ribu untuk semuanya,” tandasnya. (din)

You might also like

Comments are closed.