Relokasi PKL Barito Molor sampai Tahun Depan

METROSEMARANG.COM – Tahap pemindahan ratusan pedagang kaki lima (PKL) di Jalan Barito, urung terwujud. Pasalnya, pembuatan kios di kawasan Pasar Klithikan Penggaron tak kunjung rampung.

Rencana relokasi PKL Barito ke Pasar Klithikan dipastikan mundur sampai 2019. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Akibat kondisi tersebut, berdasarkan penuturan para pedagang Barito, relokasi yang dilakukan Dinas Perdagangan Kota Semarang diundur setahun ke depan.

“Terakhir setelah rembugan dengan sejumlah pengurus paguyuban pedagang akhirnya dicarikan solusi bahwa proses relokasinya diundur tahun 2019 mendatang. Sebab, kalau kita diminta cepat-cepat pindah ke Penggaron, lokasi kiosnya belum jadi,” ungkap seorang pengurus Persatuan Pedagang Onderdil dan Jasa (PPOJ) Barito kepada metrosemarang.com, Jumat (19/1).

Ia juga khawatir jika pelanggannya kabur setelah direlokasi ke Klithikan Penggaron. Apalagi, lanjutnya, sejak menempati kios Barito pada akhir 1970 silam kiosnya menjadi jujukan bagi warga yang mencari spart part truk dan mesin konstruksi.

“Maka saya sebenarnya ketar-ketir kalau pindah ke Penggaron pelanggan yang sudah bertahun-tahun beli di sini jadi kabur semua,” bebernya.

Di sepanjang Jalan Barito sampai Kartini, saat ini terdapat 500 lebih PKL yang berjualan berbagai macam spart part, aksesoris kendaraan dan mobil sampai sepeda onthel.

Pedagang aksesoris kendaraan di Jalan Barito lainnya yang enggan disebut namanya menuturkan rencana relokasi saat ini masih simpang siur. Nasib para pedagang pun kini seolah digantung.

“Kalau disuruh milih ya kepengen menetap terus di sini. Karena pindah ke tempat baru pasti harus adaptasi lagi, babat alas lagi. Padahal saya di sini sudah enjoy. Pelanggannya sudah mapan,” terangnya.

Ia meminta kepada Pemkot Semarang untuk memperjelas nasib pedagang terkait proyek normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur (BKT). Pemkot, menurutnya harus mempertimbangkan lokasi relokasi apakah representatif bagi pedagang atau tidak.

Rumor yang berkembang di kalangan pedagang, luasan kios di Penggaron justru dipersempit. Di sana nanti tiap pedagang hanyabdapat kios seluas 3×4 meter.

“Lokasinya juga pinggiran berbatasan dengan Mranggen. Jika babat alas lagi ya tentu dua tiga tahun baru dapat pelanggan baru. Saya rasa membiasakan pelanggan mampir ke tempat yang jauh sangat sulit,” cetusnya. (far)

You might also like

Comments are closed.