Relokasi Terganjal Regulasi, Rusunawa Jadi Solusi

 

Tanah ambles di Perumahan Trangkil Baru, Januari 2014. Foto Metrosemarang/dok ksr undip
Tanah ambles di Perumahan Trangkil Baru, Januari 2014. Foto Metrosemarang/dok ksr undip

SEMARANG – Wacana Pemkot Semarang untuk merelokasi warga yang tinggal di daerah rawan bencana terganjal regulasi. Satu-satunya solusi yang memungkinkan adalah memindahkan ke rumah susun sewa (rusunawa), meski cara ini juga kerap menemui jalan buntu.

Seperti halnya saat pemkot mencoba memindahkan warga Deliksari, Kelurahan Sukorejo yang lokasinya berada di daerah patahan. Warga memilih bertahan, meski harus menghadapi risiko bencana tanah longsor.

Tawaran menempati rusunawa tersebut dinilai kurang menguntungkan. Sebab, sebagian besar warga sudah mengantongi sertifikat tanah di Deliksari. ”

Kalau harus pindah ke rusunawa yang sempit sepertinya sulit, karena kami di sini juga punya lahan luas,” kata Wanti, salah seorang warga Deliksari.

Sebelumnya, pemkot juga pernah menawarkan lokasi tanah bengkok di Pakintelan, Kelurahan Gunungpati. N

amun, tawaran itu juga ditolak. “Warga takut karena tanah bengkok itu bisa saja mendatangkan masalah. Sedangkan di sini, warga sudah punya hak atas tanah Deliksari,” urai Wanti.

Wacana merelokasi warga Deliksari ke Pakintelan memang sempat mengemuka. Hanya saja, rencana tersebut batal terwujud karena terbentur aturan Permendagri No 32/2011 tentang pemberian hibah.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi berkali-kali menegaskan Pemkot serius untuk menyelesaikan permasalahan di Deliksari. “Sudah ada pembahasan dengan dewan dan sudah konsultasi ke kemendagri. Tapi, pemberian hibah tersebut memang tidak diperkenankan,” katanya, beberapa waktu lalu.

Sebagai solusi alternatif, pejabat yang akrab disapa Hendi itu menawarkan rusunawa. Selain itu, dia juga sudah menyampaikan kepada pengusaha terkait penggunaan dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) untuk warga Deliksari dan belum ada tanggapan.

Desa Deliksari terdiri dari empat RT yang berada di wilayah RW 6 dan dihuni sekitar 250 kepala keluarga. Lokasi ini memang kerap menjadi langganan bencana tanah longsor karena berada di daerah patahan, khususnya di RT 3 dan 4. Namun, warga tetap merasa nyaman, meski sewaktu-waktu bahaya mengancam.

Kondisi yang hampir sama juga dialami warga Kalialang, Sukorejo. Salah seorang warga setempat, Su

yanto mengatakan, paving block yang menjadi jalanan di daerahnya tidak bertahan lama. “Biasanya umur enam bulan sudah berubah posisi. Sebagian ada yang ambles,” kata dia.

Dia masih terbayang dengan kejadian dua tahun silam ketika rumah tetangganya retak kemudian roboh. Sia menceritakan, saat itu sedang terjadi hujan lebat. Tembok dan lantai rumahnya pun retak dikarenakan posisi tanah yang tidak stabil.

Dia menuturkan, longsor kecil sering terjadu di jalan yang menghubungkan Kalipancur ke Sampangan. “Di sana kebetulan jalannya melewati tebing bukit. Kalau hujan seperti ini, lumpurnya bisa turun dan menutupi badan jalan,” terang dia.

Sampai saat ini, dia masih was-was ketika hujan mengguyur daerahnya. “Saya ingin pindah, tapi menunggu keputusan keluarga besar dulu. Lagian, pindah tidak segampang yang dipikirkan,” pungkasnya. (ade)

 

 

 

You might also like

Comments are closed.