REVIEW: Patung Kekasih dan Pentingnya Aktualitas Teater

image

SEMANGAT Pematung Tua sedang membara. Tak kenal lelah, ia fasih “mengawinkan” palu dan tatah demi karya masterpiece-nya. Sebuah patung yang diniatkan menjadi mahakarya tak ternilai harganya.

Tapi bukan keindahan yang ia cipta. Ibu Pertiwi yang dieksplorasi, malah menjadi patung buruk rupa. Wajahnya berlabur cat merah, kerudungnya sobek, dan gaun putihnya penuh noda. Tetap saja, Pematung Tua menganggap karyanya monumental. Ia pun membawa patung Ibu Pertiwi ke hadapan pengusaha untuk dijual.

Pematung Muda menilai pekerjaan Pematung Tua estetika pengkhianatan. Dia menolak dan mengkritik rezim kesenian ayahnya habis-habisan. Pada akhirnya, Pematung Muda membunuh ayahnya dengan racun. Ironisnya, situasi tak jadi lebih baik. Pematung Muda justru menggantikan peran ayahnya sebagai hamba pengusaha.

Naskah karya Simon Hasiholan Tambunan atau lebih dikenal dengan Simon Hate ini dipentaskan Teater Metafisis, Jumat (15/5) malam. Lebih dari seratus penonton memadati Auditorium 1 Universitas Islam Negeri Walisanga.

Pertunjukan berdurasi lebih dari satu jam itu penuh adegan tawa. Terutama oleh tingkah para Kacung yang berkarakter komikal. Pria-pria bertubuh kurus bertelanjang dada itu adalah representasi warga Negeri ini yang bermental kacung. Penonton suka. Berulang kali mereka tertawa, tak peduli sesungguhnya mereka sedang menertawakan diri sendiri.

Menariknya, pertunjukan yang berakhir sekitar pukul 21.30 itu mendapat apresiasi beragam. Laiknya yang digambarkan dalam pertunjukan, ada dua pendapat bertolak belakang dalam mengapresiasi karya.

Pekerja teater kampus Semarang memuji karya Sutradara Septian Min Ahdy ini luar biasa. Bahkan terlontar kata “wow” dan “awesome” dalam diskusi, untuk menunjukkan kekaguman atas penggarapan yang istimewa.

Tapi beberapa aktivis teater menganggap pentas Metafisis meninggalkan lubang-lubang pertanyaan yang cukup serius. Anggota Serawung Teater Semarang (Serat Semar) Aristya Kuver mempertanyakan mau dibawa kemana pentas ini. Apakah hanya membawakan sesuai era pembuatan naskah ini pada 1983, atau menariknya ke masa sekarang.

Pertanyaan itu dilatari sikap mendua sutradara. Di satu sisi, tidak ada teks baru yang menjelaskan situasi kekinian. Semua dialog dalam pentas berasal dari naskah asli sehingga mengindikasikan latar waktu era orde baru. Tapi pembacaan itu dikaburkan oleh pemilihan peran Pengusaha sebagai orang Tionghoa. Aneh, karena dalam naskah aslinya Simon Hate sama sekali tidak menyebut pengusaha itu orang Tionghoa.

Maka dengan menginterpretasikan naskah ini sebagai kritik atas pemimpin Negara yang melacurkan Indonesia kepada pemilik modal asing, pemilihan pengusaha Tionghoa menjadi rancu. Sebab yang dibidik Simon Hate pada masa itu adalah pengusaha Barat yang mencaplok kekayaan alam Indonesia. Atau setidaknya, bukan pengusaha Tionghoa, karena justru pada masa itu mereka ditiadakan.

Aristya juga tidak merasakan daya dobrak pertunjukan sekuat yang ia bayangkan. Alumni Universitas Dian Nuswantoro itu membayangkan, betapa penguasa menganggap naskah Patung Kekasih sangat berbahaya sehingga melarang Teater Dinasti mementaskannya. “Ketika membaca naskah ini sendiri saya bisa merasakan kekuatannya, tapi ketika menonton pertunjukan ini saya tidak merasakan hal yang sama,” kata dia.

Kegelisahan Aristya seakan dijawab oleh Ibrahim Bra. Anggota Teater Tikar Semarang ini menilai Septian Min Ahdy belum bertindak sebagai sutradara, melainkan koreografer.

“Dia mungkin sudah paham bahwa naskah ini menjemukan, lalu mengkreasi para Kacung sebagai bumbu penyegar. Sayangnya hanya sebatas itu, baru pada menggarap komposisi permainan, tapi ruh naskah hilang,” kata mahasiswa Universitas PGRI Semarang itu.

Tak hanya itu, kekuatan simbol dalam naskah yang digarap Simon Hate bersama Emha Ainun Najib dan Fajar Suharno ini malah tereduksi oleh keputusan-keputusan penting tim artistik. Sosok Ibu Pertiwi misalnya. Pemilihan gaun putih sebagai kostum, menjadikannya lebih menyerupai pengantin perempuan yang bergaya ala barat. Kalau saja tidak ada dialog yang menyebut patung, mungkin penonton akan mengira Ibu Pertiwi adalah calon isteri Pematung Tua.

Tapi pertanyaan terbesar adalah kenapa memainkan Patung Kekasih hari ini secara text book. Sebab bukankah Teater Dinasti dan Simon Hate dikenal akan karya-karyanya yang aktual dan kontekstual. Selepas Dinasti bubar, Simon bahkan mendirikan KTRI yang dikenal lewat teater pembebasannya dan kerja-kerjanya dalam mengroganisir massa rakyat.

Tentu saja naskah ini begitu heroik pada masa orde baru karena yang dikritik habis-habisan adalah kekuasaan Soeharto dan kroni-kroninya. Tapi saat sekarang, narasi besar soal eksplorasi kekayaan alam oleh pemodal asing adalah berita usang.

Jika memandang teater adalah media seni pertunjukan, maka nilai berita atau pesan yang dibawa sangat minimal. Penonton membutuhkan berita dan informasi yang memiliki kadar aktualitas dan approximately tinggi. Tanpa itu, teater akan kehilangan masyarakatnya. Kecuali, pekerja teater Semarang cukup puas ditonton teman-temannya sendiri, silahkan saja terus memainkan naskah lama tanpa diadaptasikan situasi terkini.

Pada saat yang sama, naskah ini memberi peluang untuk dimasakinikan melalui pembaruan isu, baik wacana local maupun nasional. Di lingkup lokal saja, ada beberapa isu ancaman kekuatan modal besar. Ada rencana penggusuran Taman Budaya Raden Saleh oleh Trans Studio, kekhawatiran pembangunan Pasar Johar yang baru saja terbakar akan merusak cagar budaya warisan Thomas Karsten, pembangunan Pabrik Semen yang berpotensi merusak Kawasan Karst di Pegunungan Kendeng Rembang dan Pati, atau Pembangunan PLTU Batang yang mengancam lahan-lahan pertanian.

* * *

Bagaimanapun keberanian Metafisis menggarap Patung Kekasih layak diapresiasi tinggi. Sebab naskah ini bukan teks yang mudah. Selain tokoh utamanya masih debatable, konflik tidak terpusat tapi tersebar di sepanjang pertunjukan, dan mengandung simbol yang memerlukan kajian kritis sebelum penggarapan. Ketika teater kampus Semarang lebih senang memilih naskah-naskah mudah dan tidak menantang, Metafisis memilih nekad dan berjibaku hampir setengah tahun demi produksi ini.

Meski demikian, pada penggarapan selanjutnya mungkin perlu mendengar pesan Day Milovich, suheng Teater Metafisis sendiri. “Kalau kerepotan menginterpretasi naskah atau mengadaptasi, alangkah lebih nyaman jika membuat naskah sendiri.”(Anton Sudibyo)

You might also like

Comments are closed.