Ribuan Ton Susu Murni, dari Getasan untuk Susu Bendera

HARI beranjak gelap saat beberapa warga Desa Sumogawe, Getasan, Kabupaten Semarang, masih sibuk di kandang ternak. Di salah satu sudut jalan desa, Warni, warga desa setempat, menabur katul di kandang sapinya. “Kalau sore sapi-sapi yang ada di sini harus diberi makan biar cepat gemuk dan menghasilkan banyak susu,” katanya kepada metrosemarang.com, Jumat (4/5).

frisian flag
Sekorang pekerja sedang merawat sapi di peternakan milik Marsudi, Desa Sumogawe, Getasan, Salatiga. (foto: Fariz Fardianto)

Saban hari Warni bekerja memerah susu sapi milik Marsudi Mulyo Utomo. Peternakan MArsudi memiliki puluhan sapi perah. Setiap hari, ratusan liter susu segar dihasilkan oleh peternakan itu. Pengembangbiakan sapi perah dimulai Marsudi sejak puluhan tahun lalu.

Marsudi kemudian membentuk KUD Wahyu Agung pada tahun 2009 silam. “Kami daftarkan ke Dinas Koperasi Kabupaten Semarang selang setahun kemudian tepatnya pada 2010 dengan menggelar RAT (rapat anggota tahunan). Setelah itu baru dijadikan koperasi,” tuturnya saat ditemui di balai desa.

KUD Wahyu Agung berkembang pesat koperasi peternak sapi perah yang ada di Desa Sumogawe. Dari semula 250 peternak yang terlibat. Kini jumlahnya membengkak jadi 600 orang.

Produksi susu yang dihasilkan anggota KUD Wahyu Agung per harinya mencapai 25 ribu ton. Koperasi itu memberi pasokan ke pabrik susu olahan Frisian Flag di Bandung. Sebelum dikirim ke Frisian Flag, tiap susu hasil perahan para peternak dimasukan ke mesin pendingin. Susu murni dikirim ke Bandung dalam suhu nol derajat celcius.

“Ini merupakan jumlah yang besar untuk memasok kebutuhan susu murni,” tutur Marsudi. Dari total 13 desa sentra penghasil susu sapi di Getasan, penyumbang terbesar berada di Desa Sumogawe. Marsudi sendiri telah mengantongi surat keputusan dari Bupati Semarang untuk merancang program desa wisata tangguh susu yang diklaim sebagai satu-satunya di Jawa Tengah.

“Desa tangguh susu ini rencananya punya paket wisata. Diantaranya kunjungan ke sentra-sentra UMKM makanan berbahan dasar susu, dan melihat pemerahan sapi di tiap rumah penduduk,” kata Marsudi.

Usaha susu sapi telah menjadi penopang utama laju perekonomian masyarakat desa tersebut. “Banyak warga yang dulunya tidak bisa mengenyam pendidikan dengan memadai, kini bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai perguruan tinggi. Ini tentunya sejalan dengan misi koperasi dalam memajukan harkat dan derajat anggotanya,” ungkap Marsudi.

Efi Lutfiah dari Fresh Milk Manager Frisian Flag Indonesia menyatakan memiliki komitmen jangka panjang untuk mengembangbiakan peternakan sapi perah di Indonesia. “Melalui kegiatan Ngariung Bareng Peternak, menjadi initiatif kami untuk membangun komunikasi antara peternak sapi dengan ahli-ahli peternakan sehingga mampu memajukan kesejahteraan para peternak,” ujar Efi. (Fariz Fardianto)