Ribut-Ribut Taksi Bandara dan Kabar Difteri Dong Biru

Penumpang Dipaksa Turun Hingga Kabar Burung Zona Merah

Nathalie mengatakan dirinya diminta turun paksa dari taksi Blue Bird di depan lobi Bandara Internasional Ahmad Yani.

SEORANG perempuan bernama Nathalie menjadi sumber berita, setelah mengunggah status di dinding Facebooknya. Pada status Facebooknya, Nathalie mengatakan dirinya diminta turun paksa saat menaiki taksi Blue Bird di depan lobi Bandara Internasional Ahmad Yani. Menurut seseorang yang mengaku mewakili otoritas bandara, Nathalie seharusnya naik taksi bandara, bukan layanan taksi lain.

Taksi bandara yang dimaksud adalah taksi yang dikelola Prima Koperasi Angkatan Darat (Primkopad). Primkopad yang bekerjasama dengan Bandara Ahmad Yani, mengoperasikan sekitra 140 taksi dengan jenis armada Toyota Limo. Disebut taksi Angkasa Pura, taksi ini merupakan satu-satunya operator transportasi Bandara Ahmad Yani sejak lama. Jauh sebelum terminal baru Bandara Ahmad Yani dibuka.

taksi bandara
Taksi Blue Bird di terminal baru Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang. (foto: metrosemarang/Fariz Fardianto)

Keributan yang dialami Nathalie itu sendiri bukan kali pertama. Pertengahan Juni lalu sepasang suami istri, dimana si istri sedang hamil, juga mengalami kejadian serupa yang dialami Nathalie. Pengelola Primkopad menuding pengemudi taksi Blue Bird seringkali menyerobot penumpang, dengan mengambil penumpang di area drop zone bandara.

Menurut Angkasa Pura, tempat ketika Nathalie menaiki taksi Blue Bird juga berada di drop zone. General Manager and Section Head PT Angkasa Pura I Bandara Internasional Ahmad Yani mengatakan seharusnya penumpang mengetahui aturan ketika hendak mencari transportasi umum di bandara. Salah satunya aturan tidak boleh naik taksi dari drop zone dimana merupakan tempat untuk menurunkan penumpang.

Sementara, PT Angkasa Pura sebagai operator Bandara Ahmad Yani menegaskan hanya bekerjasama dengan tiga penyedia jasa transportasi. Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang, rental mobil di bawah Blue Bird Group dan Primkopad penyedia taksi. Terkait hal itu, untuk memenuhi kebutuhan layanan transportasi, BRT berencana menambah jam operasional.

Tempat pemberhentian BRT di terminal baru Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang. (foto: metrosemarang/Fariz Fardianto)

PT Angkasa Pura juga menampik jika orang yang memaksa turun Nathalie dari taksi Blue Bird bukan petugas bandara. Angkasa Pura mengklaim telah meminta maaf kepada Nathalie dan bakal mengusut kejadian tersebut.

Belakangan Dinas Perhubungan Jawa Tengah turun tangan untuk merampungkan persoalan ini. Dinas menerbitkan aturan pada 19 Juli 2018 yang mengizinkan seluruh taksi berargo untuk beroperasi di Bandara Ahmad Yani. Dinas Perhubungan yang menentukan tarif batas atas dan batas bawah. Sementara otoritas bandara yang menentukan jumlah armada seluruh taksi yang bakal beroperasi di bandara.

Difteri Dong Biru

Persoalan bandara selesai, giliran warga Semarang dibuat panik oleh kabar yang beredar secara berantai lewat aplikasi percakapan Whatsapp. Sebuah kabar menyebut terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) atas merebaknya penyakit difteri di Kecamatan Genuk.

difteri semarang
Imunisasi DPT di Kampung Dong Biru setelah difteri menjangkiti warga. (foto: metrosemarang/Fariz Fardanto)

Dalam pesan tersebut tertulis ada 8 orang penderita difteri dari Kecamatan Genuk. Pesan itu juga menyebut kawasan Dong Biru, Kelurahan Genuksari sebagai zona merah difteri. Pesan yang mengatasnamakan Tim Medis Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung itu mengimbau untuk tidak melewati kampung tersebut. Sendainya terpaksa melintas maka disarankan menggunakan masker. Sebab mulai ditemukan korban meninggal.

Kabar itu tidak sepenuhnya benar. Dinas Kesehatan Kota Semarang membenarkan adanya kasus difteri, namun jumlahnya berbeda dengan yang ada dalam kabar tersebut. Menurut data Dinas Kesehatan, ada tujuh kasus difteri dengan dua korban meninggal. Kejadian tak hanya di Genuk, melainkan juga di Kecamatan Tembalang.

Imunisasi untuk mencegah bertambah luasnya seragan difteri. (foto: metrosemarang/Fariz Fardianto)

Kabar itupun dibantah oleh Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi. Ia menegaskan tidak ada penetapan zona merah dan larangan melintasi kampung Dong Biru. Kejadian tersebut, menurut Wali Kota, juga telah diatasi oleh Dinas Kesehatan.

Di Kelurahan Genuksari sendiri lantas diadakan imunisasi massal untuk mencegah penyebaran difteri. Imunisasi diberikan kepada anak-anak usia 1 hingga 12 tahun. Sementara, Rumah Sakit Umum Pusat Kariadi Semarang menambah ruang isolasi untuk mengantisipasi bertambahnya pasin difteri. Korban meninggal pun telah dimakamkan dengan dimasukkan ke dalam peti steril.

Kasus difteri telah terjadi di Semarang sejak Desember 2017 lalu. Kasus sempat mereda, namun kembali merebak pada Juni hingga Juli 2018. Sejak Desember 2017 hingga saat ini telah ada 4 korban meninggal. Hendaknya warga masyarakat mengenali lebih jauh tentang difteri, menggunakan sumber informasi terpercaya. Masyarakat sedianya juga berperan pencegahan yang salah satunya dengan imunisasi. (redaksi)

Comments are closed.