Ritual Susuk Wangan Wali, Tradisi Warga Menjaga Kelestarian Hayati

METROSEMARANG.COM – Warga Desa Peron Kecamatan Limbangan Kendal mempunyai tradisi unik sebagai bentuk  rasa  syukur dengan melimpahnya air sebagai sumber pengairan untuk pertanian. Ritual  Susuk Wangan Wali ini  sudah menjadi tradisi warga setempat, sejak puluhan tahun.

Ritual dipimpin oleh tokoh adat desa dan dihadiri Camat Limbangan, Danramil 14/Limbangan Kodim 0715/Kendal, dan Kapolsek Limbangan. Yang telah menganugerahkan sumber mata air pegunungan yang melimpah dan mengalir ke dalam saluran irigasi.

Usai didoakan, sebanyak sembilan nasi tumpeng dibawa oleh tokoh adat bersama puluhan warga dibawa ke saluran irigasi untuk dilarungkan. Tokoh Adat Desa Peron Mbah Kusnadi, mengatakan, tradisi susuk wangan di Desa Peron merupakan adat sedekah sungai karena rasa syukur terhadap Allah SWT.

Sebagaimana diketahui, melalui pendahulunya, Kiai Kisabar Iman, Kiai Citrongodo dan Nyai Ukel yang kali pertama membuka jalan air sehingga Desa Peron diberi air melimpah untuk mengairi sawah warga.

“Pada tradisi susuk wangan ini membawa sejumlah aneka hasil tanaman warga dan tumpeng dengan lauk ayam panggang untuk didoakan. Setelah dibacakan doa oleh tokoh adat, tumpeng kemudian dibagi-bagi kepada warga untuk dimakan bersama,” katanya.

Ia mengungkapkan, tradisi ini erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari warga yang banyak berkutat dengan pertanian dan sumber air. “Susuk wangan yang kami gelar tiap tahun inimemiliki arti membersihkan saluran air. Sebagai ungkapan syukur atas sumber air yang diberikan Allah SWT,” ungkap dia.

Kepala Desa Peron, Sugiono menyampaikan, ritual ini merupakan adat istiadat masyarakat Desa Peron dan sekitarnya, sebagai bentuk rasa syukur jika selama ini mereka memperoleh manfaat dari aliran air gunung yang mengalir sepanjang tahun.

“Warga mayoritas petani. Sebelum ritual, dilakukan gotong royong, membersihkan saluran air, sebagai upaya melestarikan sumber air gunung yang dianggap pembawa berkah kemakmuran,” terang Sugiono.

Sementara itu, Danramil 14/Limbangan Kapten Inf Ngadiono, mengatakan, kegiatan adat ritual susuk wangan ini  diselenggarakan rutin setiap tahunnya. Kegiatan ini merupakan wujud warga Desa Peron yang selalu menjaga kelestarian alamnya. “Seperti menjaga aliran sungai dan irigasi sehingga tidak mengganggu stabilitas lahan pertanian,” tandas Danramil. (metrojateng.com/MJ-01)

You might also like

Comments are closed.