Rogoh Kocek hingga Jutaan demi “Telolet”, Ternyata Ini Alasannya

METROSEMARANG.COM – Fenomena “Om Telolet Om” dianggap sebagai cara sederhana untuk mendapatkan kepuasan yang ujung-ujungnya melahirkan kebahagiaan. Tapi, bagi Romli dan kawan-kawan, ‘telolet’ lebih dari sekadar hiburan. Klakson multinada itu bisa menjadi media promosi armada bus yang dia awaki, sehingga tak ragu jika dirinya harus merogoh kocek hingga jutaan rupiah.

Foto: metrojateng.com

Romli adalah salah satu kru PO Bejeu yang biasa melayani trayek ke Jakarta. Sebelum menjalankan armadanya, pria 38 tahun itu memeriksa kondisi bus yang akan dikemudikannya. Salah satu yang diperiksa adalah klakson. Dereten tombol merah di dekat kemudi ditekan. Tak berselang lama, terdengar suara klakson “telolet telolet telolet”.

Romli berkisah, klakson telolet yang terpasang di bus yang dikemudikannya dibeli dari kocek sendiri. Harganya mencapai jutaan rupiah. Dia rela melakukannya lantaran menganggap bus yang dikemudikannya adalah rumah keduanya.

“Saya memang dititipi pesan Pak Haji (sebutan pemilik PO Bejeu) agar merawat bus seperti milik sendiri. Makanya saya rawat salah satu caranya pasang telolet,” beber Romli saat ditemui di garasi PO Bejeu, Sabtu (24/12) sore.

Memasang klakson telolet enam corong di bus yang dikemudikannya, Romli harus merogoh kocek Rp 1,8 juta.  Hampir tiap hari, Romli memang berada di balik kemudi bus antar kota antar provinsi (AKAP) itu. “Setiap sore berangka pukul 16.30. Sebulan hanya libur beberapa hari saja,” urainya.

Dia menambahkan, jumlah bus PO Bejeu sekitar 58 unit. Sekitar 80 persennta dipasangi klason telolet, baik jenis tiga corong maupun enam corong.

Ditemui terpisah, Direktur Pemasaran PO Bejeu M Rifqy Roosdhani mengatakan mayoritas telolet yang terpasang di bus perusahaan atas inisiatif dari sopir yang bersangkutan. Pihaknya tak melarang bahkan malah mengapresiasi karena hal itu ternyata berkontribusi bagi eksistensi bus Bejeu.

“Peminat telolet itu mayoritas anak-anak. Nah anak-anak itu adalah calon customer masa depan. Pengalaman telolet akan menjadi referensinya saat mencari bus ketika mereka dewasa kelak,” tutur Rifqy.

Teekait larangan kepolisian agar sopir bus tak membunyikan telolet, Rifqi tak mempermasalahkan. Pesan itu juga diteruskan ke seluruh awak bus. Menurutnya langkah kepolisian itu memang harus dilakukan agar tak terjadi kemacetan di jalan.

“Larangan itu karena faktor antisipasi kemacetan, bukan karena suara telolet. Karena bunyinya di bawah 112 db yang merupakan batas maksimal suara klakson,” pungkas Rifky. (metrojateng.com/oby)

You might also like

Comments are closed.