Rugi, Rugi dan Rugi!

Dari PSIS, Minimarket, Hingga BPJS

Di Semarang, Pemerintah Kota Semarang dituding menunggak pembayaran selama dua bulan

UNTUK kesekian kalinya, pergesekan antar kelompok suporter memakan korban. Suporter Persija, Haringga Sirlia (23 tahun), meninggal sebelum laga Persija Vs Persib di pekan ke 23 kompetisi Liga 1 dimulai (Minggu, 23/09/18). Buntut dari peristiwa itu, PSSI menghentikan sementara kompetisi Liga 1 untuk waktu yang belum ditentukan.

Penghentian itu berdampak banyak pada klub-klub Liga 1, termasuk PSIS. Klub yang grafik performanya mulai merangkak naik, malah harus berhenti berlaga. Dampak psikologis adalah hal pertama disoroti pengelola PSIS.

psis
Penghentian kompetisi liga satu merugikan klub, salah satunya PSIS Semarnag. (foto: dok metrojateng)

“PSIS saat ini sedang bagus-bagusnya, dan tiba-tiba kompetisi harus berhenti. Kondisi seperti ini tentu akan berdampak terhadap psikologis tim,” kta CEO PSIS, Yoyok Sukawi.

Ia kecewa, lantaran kerugian tak hanya itu. Ada potensi kerugian finansial yang cukup besar pula berkaitan dengan penundaan kompetisi ini. Pengeluaran klub PSIS setiap bulan bisa mencapai Rp 1,2 miliar. Jika tak ada pertandingan maka dipastikan tak ada pemasukan. Urusan dengan sponsor juga bakal terganggu. Dampak yang paling buruk adalah, klub ditinggalkan oleh sponsor.

 

Perampokan Minimarket

Kerugian finansial juga diderita pengusaha dan karyawan sebuah minimarket. Selasa (25/09/18). Komplotan bersenjata api melakukan pengancaman dan membawa kabur uang dari Indomaret di Jalur Pantura Semarang-Kendal, tepatnya di Jalan Walisongo, Wonosari, Tugurejo. Tak kurang dari 25 juta raib dari meja kasir.

Komplotan diduga beranggotakan empat orang dan menggunakan mobil untuk beroperasi. Perampokan itu terjadi sekitar pukul 03.15 dini hari. Tidak ada korban jiwa, namun kejadian itu menambah daftar panjang perampokan di minimarket 24 jam. Dua pekan lalu, dua Indomaret di Kecamatan Banyumanik dirampok dengan modus yang sama.

rampok minimarket
Perampokan minimarket yang marak dalam dua bulan ini membuat kepolisian meningkatkan patroli. (foto: dok metrojateng)

Selain Indomaret di Jalan Walisongo, perampokan juga terjadi di Alfamart Mangkang Kulon, Kecamatan Tugu. Kedua tempat itu berjarak sekitar tiga kilometer. Kali ini perampokan terjadi sekitar pukul 04.00. Artinya, dalam satu jam terjadi perampokan di dua tempat yang tak begitu jauh. Uang Rp 16 juta dibawa kabur perampok.

Menyikapi hal itu, polisi lantas meningkatkan patroli keamanan yang dilakukan oleh Tim Elang, sekaligus imbauan kepada pengelola minimarket yang buka 24 jam. Yakni dengan menambah telefon di meja kasir untuk menghubungi kepolisian terdekat dengan satu tombol, juga menambahkan kamera CCTV.

Tiga hari pasca perampokan minimarket di Jalan Walisongo, polisi menangkap enam terduga pelaku perampokan. Mereka berasal dari daerah yang berbeda. Empat tersangka berasal dari Tangerang, satu dari Banyumas dan satu lagi dari Kebumen. Keenamnya ditangkap di Banyumas. Dua mobil menjadi bagian dari barang bukti dalam penangkapan tersebut.

 

Tunggakan BPJS

Masih ada yang tak ketinggalan dalam urusan rugi merugi ini. Laporan keuangan BPJS tahun 2017 menyebut institusi itu mengalami defisit hingga Rp 6,74 triliun. Angka tersebut didapat dari selisih iuran yang dibayarkan peserta kepada BPJS dengan jaminan kesehatan yang ditanggung oleh BPJS.

Dampak defisit itu merembet sampai daerah. Di Semarang, sepanjang bulan Januari hingga September 2018, RSUD Kota Semarang KRMT Wongsonegoro belum menerima pembayaran klaim dari BPJS Kesehatan terkait pelayanan yang telah diberikan. Besaran totalnya mencapai Rp 34 miliar. Buntutnya, rumah sakit lah yang mengupayakan penutupan biaya layanan kesehatan yang dijamin BPJS.

BPJS Kesehatan
BPJS Kesehatan akhirnya membereskan tunggakan pembayaran ke rumah sakit, setelah mencapatkan talangan dana dari Kementerian Keuangan. (foto: dok metrojateng)

Hal itu juga terjadi di rumah sakit swasta. Seperti rumah sakit-rumah sakit yang berada di bawah naungan Muhammadiyah di wilayah Jawa Tengah. Mereka terpaksa mengajukan pinjaman kepada bank umum untuk menutup biaya layanan kesehatan yang dijamin BPJS. Hal itu lantaran BPJS belum membayarkan klaim untuk dua hingga empat bulan.

Jumlah tunggakan BPJS di 32 rumah sakit yang dikelola Muhammadiyah maupun organisasi wanita Aisyiah di Jawa Tengah saat ini mencapai Rp 300 miliar. Tunggakan itu bervariasi setiap rumah sakit mulai Rp 1 miliar sampai Rp 48 miliar.

Langkah lain ditempuh oleh RS Elisabeth Semarang. Efisiensi layanan medis dipilih untuk mengatasi klaim pebayaran BPJS sebesar Rp 13,2 miliar yg belum diterima. Salah satunya adalah penyesuaian penggunaan obat, seperti antibiotik. Hal itu terpaksa dilakukan agar rumah sakit tetap bisa memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Defisit BPJS terjadi karena jumlah pembayaran peserta yang lebih sedikit dari jumlah klaim jaminan layanan kesehatan. Di Semarang, Pemerintah Kota Semarang dituding menunggak pembayaran selama dua bulan. Meski kemudian tudingan itu ditampik, dengan memberikan klarifikasi bahwa pembayaran bulan Agustus 2018 telah diselesaikan dan pembayaran bulan September masih dalam proses.

Namun pada akhirnya, setelah BPJS Kesehatan mendapat dana talangan dari Kementerian Keuangan sebesar Rp 4,3 triliun, tunggakan-tunggakan di rumah sakit itu dilunasi. BPJS Kesehatan KCU Semarang mendapat Rp138,94 miliar yang bakal digunakan untuk membayar tunggakan di 20 rumah sakit Semarang dan Demak.

Namun yang paling diharapkan adalah ketertiban peserta BPJS untuk membayar iuran rutin. Ayo dong bayar!

 

 

 

Comments are closed.